JABARONLINE.COM - Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat fundamental ekonomi domestik sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang meningkat pada Rabu (22/4/2026). Fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas pasar keuangan dari volatilitas yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Dilansir dari Money, pemerintah menyatakan bahwa dinamika pasar global memberikan pengaruh signifikan, namun berbagai persiapan matang telah dilakukan untuk memitigasi risiko tersebut. Langkah-langkah strategis telah disusun guna menghadapi berbagai kemungkinan skenario yang mungkin terjadi di masa depan.
"Segala sesuatunya sangat bergantung pada asumsi, termasuk durasi konflik yang terjadi, namun kami telah menyiapkan berbagai ancang-ancang dan skenario untuk menghadapinya," ujar Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas.
Penjelasan mendalam tersebut disampaikan dalam forum Prasasti Luncheon Talk di Jakarta yang dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Di antaranya adalah Hashim Djojohadikusumo selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, serta mantan Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah.
Gejolak geopolitik dunia saat ini memang membawa risiko nyata bagi perekonomian negara, mulai dari potensi kenaikan inflasi hingga depresiasi nilai tukar rupiah. Selain itu, pemerintah juga mewaspadai peningkatan beban subsidi energi yang dapat membebani keuangan negara.
Meskipun tekanan eksternal cukup kuat, pemerintah menegaskan bahwa disiplin fiskal tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Defisit anggaran dipastikan akan terus dijaga agar tetap berada dalam batas aman sesuai dengan koridor hukum yang berlaku tanpa rencana pelebaran dalam waktu dekat.
"Hingga saat ini, tidak ada niat untuk memperlebar defisit anggaran, melainkan kami terus mendorong agar belanja negara menjadi lebih produktif dan memberikan daya ungkit bagi ekonomi nasional," tegas Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas.
Pemerintah juga tetap optimis dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029 yang tertuang dalam RPJMN. Kebijakan-kebijakan strategis terus diperkuat agar target ambisius tersebut dapat terealisasi meski di tengah tantangan global yang dinamis.
"Fokus kami bukan pada apakah target tersebut akan diturunkan, tetapi bagaimana memperkuat kebijakan yang ada agar target pertumbuhan tetap bisa tercapai," kata Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas.
