JABARONLINE. COM, — Istilah Tatanan Jenggolo Manik kembali mencuat di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pemerhati sejarah dan budaya Jawa. Istilah ini diyakini tidak sekadar rangkaian kata, melainkan mengandung makna filosofis serta jejak cerita masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun.

Secara etimologis, “Jenggolo” atau “jenggalek” dimaknai sebagai “tempatnya”, sementara “manik” diartikan sebagai “harus tahu” atau memahami. Dalam budaya Jawa, istilah tersebut juga berkaitan dengan ungkapan rasa syukur atau matur nuwun. Dengan demikian, Tatanan Jenggolo Manik dipahami sebagai tatanan kehidupan yang mengandung nilai kesadaran, pengetahuan, dan rasa syukur.

Sejumlah warga meyakini adanya peninggalan berupa tulisan di batu yang berbunyi, “wowoto boboto tonopo tanah jawa wiwiting babating, tanah jawa wiwite babate, ndul e ngandong.” Tulisan ini disebut sebagai simbol awal mula kehidupan di Tanah Jawa dan dikaitkan dengan konsep Jenggolo Manik.

Kisah tersebut juga bersinggungan dengan tokoh yang dikenal sebagai Sultan Ngadirin. Dalam cerita lisan, ia disebut melakukan perjalanan hingga ke wilayah Mongol dan Campa sebelum kembali ke Pulau Jawa. Di pesisir utara, tepatnya di Jepara, ia dikisahkan bertemu kembali dengan ibundanya, Mbok Reno.

Pertemuan itu kemudian menjadi awal kehidupan baru di wilayah Kali Gapura dan Kali Sima. Masyarakat setempat mempercayai kisah ini sebagai bagian dari awal perkembangan peradaban di wilayah tersebut, meski belum didukung bukti sejarah tertulis yang kuat.

Cerita berlanjut pada sosok Mbah Ndul yang disebut hidup pada masa kolonial Belanda. Dalam narasi ini muncul istilah “nedud” yang diartikan sebagai proses pertumbuhan atau sumber kehidupan, bahkan dikaitkan dengan makna awal kehidupan.

Pada masa itu juga dikenal istilah “karetan nedud” yang diyakini sebagai awal penanaman karet di wilayah tersebut. Hingga kini, warga masih mempercayai adanya pohon karet tua sebagai saksi sejarah, meskipun belum dapat dipastikan secara ilmiah.

Selain itu, terdapat pula sosok Mbah Loreng atau Mbah Wareng yang diyakini pernah tinggal di wilayah Arjowilangun. Di kawasan yang dikenal sebagai “Ipek”, terdapat makam yang hingga kini sering dikunjungi warga dan dipercaya sebagai makam tokoh tersebut.

Meski demikian, sejumlah kalangan menilai kisah Tatanan Jenggolo Manik masih berada dalam ranah sejarah lisan. Para peneliti menilai perlu adanya kajian lebih lanjut melalui sumber tertulis maupun arkeologis untuk memperkuat kebenarannya.