JAKARTA – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) berkolaborasi dengan Good News From Indonesia (GNFI) dan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menggelar diskusi panel "Good Talk Off Air". Acara yang mengusung tema “Navigation Crisis: Strategi Komunikasi di Era Ketidakpastian Global” ini berlangsung di Aula Lantai 4 Kampus A Uhamka Limau, Jakarta, pada Kamis (16/4/2026).

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda untuk membedah dinamika komunikasi krisis, yakni Magvira Yuliana, S.Sos., M.I.Kom (Akademisi FISIP Uhamka), Dr. Prabu Revolusi, S.T., M.I.K (Komisaris Independen Pertamina Subholding Downstream & Ketua Umum AI Forum Indonesia), serta Rian Fahardhi, S.Sos (Content Creator & Founder Distrik Berisik).

CEO GNFI sekaligus Ketua Pelaksana, Wahyu Aji, menjelaskan bahwa forum ini merupakan agenda rutin bersama Perhumas untuk merespons situasi dunia yang kerap dilanda krisis, baik di sektor sosial maupun global. Menurutnya, masyarakat dan praktisi memerlukan panduan komunikasi yang tepat agar informasi tetap jernih.

“Kita perlu membahas bagaimana cara berkomunikasi yang tepat dalam situasi krisis agar informasi yang disampaikan tetap jelas dan tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat,” ujar Wahyu.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Sekretaris Perhumas, Fransisca Vena Apriliana, menekankan bahwa kunci menghadapi tantangan komunikasi modern adalah kolaborasi lintas sektor. Ia menilai penanganan krisis tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, praktisi, akademisi, dan generasi muda agar informasi yang disampaikan tetap kredibel, konsisten, dan dapat dipercaya oleh publik,” tegas Fransisca.

Dari sisi akademis, Dekan FISIP Uhamka, Dra. Tellys Corliana, M.Hum, menyoroti pentingnya membangun kepercayaan publik di tengah kondisi dunia yang terus berubah. Ia menyebut komunikasi krisis kini bukan lagi sekadar urusan institusi, melainkan juga tanggung jawab aktor digital dalam menyebarkan informasi yang akurat.

“Komunikasi krisis sangat penting untuk membangun kepercayaan publik, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh pemangku kepentingan termasuk kreator digital,” ungkap Tellys.

Selain sesi bincang-bincang utama yang membahas strategi di berbagai sektor seperti industri dan media, acara ini juga memfasilitasi sesi networking. Melalui sesi ini, para mahasiswa dan praktisi komunikasi yang hadir dapat bertukar gagasan serta memperluas jejaring profesional.