JABARONLINE.COM - Malam hujan di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, menjadi saksi betapa rawannya jalan utama yang penuh lubang. Refi, seorang pemuda setempat, terjatuh saat motornya terperosok ke genangan. “Saya takut lewat sini kalau hujan. Lubangnya tidak kelihatan,” ujarnya lirih. Kisah Refi hanyalah satu dari sekian banyak tragedi kecil yang menimpa warga Bogor Barat.
Jalan Rusak Jadi Ancaman Harian
Hampir setiap pekan, pengendara terjatuh di ruas Cigudeg, Nanggung, dan Sukajaya. Video kondisi jalan rusak yang diunggah warga viral di media sosial, memperlihatkan keluhan dalam bahasa Sunda yang ditujukan kepada pemerintah daerah. Lokasi yang disebut adalah Kampung Cadas Le’ur, Desa Bantarkaret, akses vital bagi mobilitas warga.
Solidaritas Warga: Tukang Jalan Dadakan
Alih-alih menunggu pemerintah, warga memilih bergotong royong. Di Desa Cisarua, pemuda kampung patungan Rp20–50 ribu untuk membeli semen dan pasir. Dengan peralatan seadanya, mereka menambal lubang demi lubang. “Kalau menunggu pemerintah, entah kapan diperbaiki,” kata Ijam, Ketua Pemuda Kampung Pongkor. Aksi swadaya ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan simbol solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakpedulian.
Anggaran Misterius, Pemerintah Bungkam
Ironisnya, di tengah aksi swadaya warga, anggaran pemeliharaan jalan sebenarnya tersedia. Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat menyoroti transparansi. “DPUPR Kabupaten Bogor harus membuka data pagu anggaran 2025 dan 2026 secara jelas. Itu uang rakyat dari pajak,” tegas Bram Suryadi. Namun hingga kini, beberapa kali saat di konfirmasi Kepala Dinas PU Kabupaten Bogor, Suryanto Putra, bungkam saat dikonfirmasi.
Ekonomi Tersendat
Kerusakan jalan bukan hanya soal keselamatan. Petani di Desa Curugbitung kesulitan mengangkut hasil panen, truk pengangkut sering mogok karena terperosok. “Kalau hujan, mobil tidak bisa lewat. Hasil panen jadi terlambat sampai pasar,” keluh Suprihadi. Pedagang kecil pun merasakan dampaknya: ongkos transportasi naik, harga barang ikut melambung.
