JABARONLINE.COM - Inovasi kuliner yang dilakukan oleh Woro Respanti Sari telah berhasil mengangkat potensi ikan sungai khas Kalimantan ke tingkat yang lebih tinggi melalui badan usahanya, Worokrez. Produk olahan yang diciptakannya, yakni Salupi (saluang krispi) dan Bilpi (bilis krispi), kini bertransformasi menjadi camilan gurih yang menarik perhatian pasar domestik maupun internasional.

Salupi menawarkan cita rasa yang ringan dengan karakteristik ikan seluang, sementara Bilpi menyajikan tekstur yang lebih padat dan kaya rasa. Kedua produk ini diposisikan sebagai camilan unggulan yang diproses secara higienis, menjadikannya pilihan oleh-oleh daerah yang kompetitif.

Woro Respanti Sari menjelaskan bahwa produknya diminati oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang akan melakukan perjalanan jauh. "Banyak calon jemaah umrah atau haji yang pesan untuk bekal makan selama di Mekkah - Madinah. Juga mereka yang mau mudik lebaran memesan produk saya untuk oleh-oleh," kata Woro.

Proses produksi di Worokrez sangat memperhatikan kualitas dan ketahanan produk melalui teknik pengeringan yang canggih. Setelah melewati proses penggorengan dan penirisan, ikan dikeringkan kembali menggunakan alat spiner selama sekitar 10 hingga 15 menit untuk memastikan semua sisa minyak goreng terangkat.

Langkah pengeringan ganda ini dilakukan dengan tujuan utama agar produk memiliki daya simpan yang lebih lama dan bebas dari aroma tengik yang sering melekat pada makanan olahan ikan. Selain dipasarkan melalui platform daring, Salupi dan Bilpi kini sudah tersedia di berbagai gerai bandara dan toko oleh-oleh strategis.

Jangkauan distribusi produk ini sudah meluas di beberapa kota penting Kalimantan, meliputi Banjarbaru, Banjarmasin, Palangkaraya, hingga Batulicin. Hal ini menunjukkan keberhasilan strategi pemasaran yang dilakukan oleh Woro.

Woro Respanti Sari, yang lahir di Madiun pada tahun 1971, memutuskan pindah ke Banjarbaru pada tahun 1998 mengikuti suaminya, drh Muhammad Taufik. Ia sempat menjabat sebagai Kepala Perwakilan perusahaan farmasi Combhipar sebelum memutuskan berhenti pada tahun 2010 demi fokus mengurus keluarga.

Jiwa kewirausahaannya tidak pernah padam; ia sempat mencoba peruntungan dengan membuka usaha salon dan binatu, sebelum akhirnya merambah bisnis bumbu pecel sejak tahun 2016. Bisnis pengolahan ikan saluang dan bilis mulai digeluti secara serius oleh Woro setelah situasi pandemi mereda.

Kesuksesan awal bisnis camilan ikan ini terbukti saat ia menjajakannya secara langsung. "Saya jualan setiap car free day di Lapangan Murjani, ternyata warga di sini banyak yang suka," ujar Woro.