JABARONLINE.COM - Sektor perbankan kembali menjadi sorotan utama bagi para investor karena menawarkan potensi keuntungan yang signifikan dalam jangka waktu panjang. Bank-bank besar, termasuk emiten perbankan unggulan, dikenal memiliki fundamental yang kokoh, sehingga koreksi harga saham justru menjadi momentum strategis untuk berinvestasi.
Saat ini, harga saham bank-bank besar dinilai kembali berada pada valuasi yang relatif murah, menjadikannya waktu yang tepat untuk mulai mengakumulasi. Sebagai contoh, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) diperdagangkan dengan Price to Book Value (PBV) sebesar 1,44 kali, mengindikasikan bahwa harga sahamnya saat ini tergolong terjangkau.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan pandangannya mengenai prospek BBRI ke depan. Dalam riset yang diterbitkan, ia memproyeksikan saham BBRI masih memiliki ruang untuk menguat hingga mencapai level Rp 3.760 per saham.
Angka proyeksi tersebut menunjukkan potensi kenaikan sekitar 22% jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan terakhir BBRI pada hari Jumat, 24 April, yaitu di level Rp 3.070 per saham. Dilansir dari CNBC Indonesia, proyeksi ini didasarkan pada analisis kinerja perusahaan ke depan.
Nafan juga mencatat bahwa BBRI menargetkan pertumbuhan kredit yang lebih moderat, berkisar antara 7% hingga 9% untuk tahun 2026, sembari berupaya mempertahankan Net Interest Margin (NIM) pada rentang sehat, yaitu 7,4% hingga 7,8%. Selain itu, sinergi dalam Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM dipandang akan memperluas peluang cross-selling produk dan akuisisi nasabah baru.
"Likuiditas dan permodalan masih sehat, rasio permodalan (CAR) dan struktur pendanaan yang memadai, memberikan bantalan terhadap risiko kredit dan likuiditas," ujar Nafan dalam risetnya, dikutip Minggu (26/4/2026).
Di sisi lain, investor disarankan untuk mencermati beberapa faktor penting seperti bagaimana penyaluran kredit mikro dilakukan secara hati-hati (prudent), pengelolaan biaya kredit, serta dinamika margin yang terbentuk. Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance atau GCG) juga menjadi nilai tambah krusial bagi perusahaan sekelas BRI.
"GCG ini menjadi nilai tambah buat investor karena ini berkaitan dengan kepatuhan terhadap OJK dan transparansi," ujarnya saat dihubungi.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, turut memberikan pandangan serupa mengenai waktu yang tepat untuk masuk ke saham BBRI. Ia menekankan pentingnya strategi pembelian bertahap (mencicil) meskipun waktu masuk dinilai ideal.
