JABARONLINE.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis proyeksi terbaru mengenai dinamika iklim yang akan terjadi di tanah air sepanjang tahun ini. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus 2026 mendatang.

Fenomena alam tahun ini diprediksi membawa karakteristik cuaca yang berbeda dibandingkan rata-rata iklim biasanya. Kondisi lingkungan diperkirakan bakal terasa jauh lebih kering dengan durasi waktu yang lebih panjang dari periode normal.

"Meskipun beberapa wilayah masih sering diguyur hujan, hal tersebut dinilai normal karena Indonesia saat ini berada dalam fase peralihan," kata pihak BMKG dilansir dari Detikcom.

Berdasarkan data pemantauan pada awal April 2026, tercatat baru sekitar 7,8 persen wilayah di tanah air yang secara resmi memasuki musim kemarau. Pergerakan musim ini dipicu oleh angin monsun Australia yang bergerak secara bertahap dari arah selatan menuju utara.

Proses transisi cuaca ini dimulai dari wilayah Nusa Tenggara sebelum akhirnya meluas ke daerah-daerah lainnya di Indonesia. BMKG secara kronologis terus memetakan periode awal masuknya musim kemarau guna memberikan peringatan dini bagi masyarakat.

"Sebanyak 46,5 persen wilayah Indonesia atau sekitar 325 Zona Musim (ZOM) akan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat atau maju dari biasanya," ujar pihak otoritas BMKG.

"Sementara itu, sekitar 23,7 persen wilayah lainnya diprediksi akan memasuki musim kemarau sesuai dengan waktu normalnya," tambah pihak BMKG dalam laporannya.

Analisis curah hujan menunjukkan bahwa 64,5 persen wilayah Indonesia akan memiliki akumulasi hujan pada kategori bawah normal. Hal ini memperkuat indikasi bahwa tantangan kekeringan tahun ini akan terasa signifikan di berbagai sektor kehidupan.

Terkait isu yang meresahkan masyarakat, BMKG memberikan klarifikasi penting mengenai potensi kekeringan ekstrem. Pihak otoritas memastikan bahwa kabar mengenai kemarau terparah dalam 30 tahun terakhir adalah informasi yang tidak benar.