Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah tentang mencapai usia tertentu, memiliki pekerjaan mapan, atau mengenakan pakaian formal. Hidupku saat itu begitu nyaman, terbungkus kapas kemudahan yang disediakan oleh keluarga; sebuah ilusi kebahagiaan yang rapuh, menunggu waktu untuk dipecahkan.

Badai itu datang tanpa peringatan, bukan dalam bentuk angin topan, melainkan dalam bentuk surat yang mengumumkan kebangkrutan total. Dalam semalam, semua fondasi yang kuanggap kokoh runtuh, meninggalkan aku berdiri di tengah puing-puing, bingung harus memegang apa.

Keputusanku saat itu terasa gila: meninggalkan kota metropolitan, menukar gemerlap lampu dengan keheningan pedalaman di sebuah desa yang bahkan tidak tercantum jelas di peta digital. Aku harus memulai dari nol, belajar bagaimana menanam, bagaimana menghitung untung dari sepetak kecil kebun, hal-hal yang dulu hanya kubaca di buku.

Awalnya, air mata adalah teman sehari-hari. Tangan yang dulu hanya terbiasa memegang pena mahal kini melepuh karena memegang cangkul. Aku merindukan kopi instan dan pendingin ruangan, tetapi alam memaksa aku untuk bernegosiasi dengan terik matahari dan dinginnya embun pagi.

Di sinilah aku mulai membaca lembar demi lembar kisah yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah, sebuah babak baru dalam Novel kehidupan yang ternyata jauh lebih jujur dan keras. Aku bertemu dengan Ibu Tani, seorang wanita tua yang kehilangan segalanya namun masih tersenyum saat panennya gagal, mengajarkan aku bahwa keteguhan bukan soal kekuatan fisik, melainkan kekuatan menerima.

Setiap matahari terbit menjadi kemenangan kecil. Aku belajar bahwa rasa sakit dan kelelahan adalah guru terbaik yang membentuk karakter. Perlahan, bayangan diriku yang manja dan bergantung mulai memudar, digantikan oleh sosok baru yang memiliki ketajaman mata dan kehangatan hati.

Aku tidak lagi mengukur kekayaan dari saldo rekening, tetapi dari kemampuan bertahan dan memberi. Kedewasaan ternyata adalah proses sadar untuk mengambil tanggung jawab penuh atas pilihan yang kita buat, bahkan ketika pilihan itu terasa menakutkan dan sepi.

Suatu hari, seorang investor dari kota datang, menawarkan aku kesempatan untuk kembali ke dunia lama dengan iming-iming modal besar. Ia melihat potensi pada hasil kebunku yang kini mulai dikenal.

Aku menatap tanganku yang kasar, lalu menatap hamparan hijau yang telah kubangun dengan keringat dan air mata. Apakah aku akan kembali ke ilusi kenyamanan, atau melanjutkan pembangunan kerajaan kecilku yang penuh makna ini?