Aku selalu membayangkan kedewasaan akan datang perlahan, seperti matahari terbit yang lembut setelah tidur panjang. Dalam bayanganku, kedewasaan adalah gelar sarjana, pekerjaan mapan, atau mungkin kunci apartemen pertamaku. Aku tidak pernah menduga bahwa kedewasaan akan datang seperti badai, menghantam di tengah malam tanpa peringatan.
Momen itu terjadi saat ponselku berdering di subuh yang dingin, membawa kabar yang merobek peta masa depanku menjadi serpihan. Tiba-tiba, aku bukan lagi mahasiswi yang bebas merencanakan perjalanan akhir pekan, melainkan satu-satunya penanggung jawab atas warisan keluarga yang rapuh dan adik laki-laki yang masih terlalu kecil. Beban itu terasa mencekik, seolah aku dipaksa mengenakan baju zirah yang ukurannya tiga kali lebih besar dari tubuhku.
Hari-hari pertama adalah neraka yang penuh angka, tagihan, dan air mata yang kutahan di balik senyum palsu. Aku berusaha keras menampilkan sosok yang kompeten, padahal di dalam, aku hanyalah seorang gadis yang merindukan waktu tidur tanpa kecemasan. Setiap keputusan terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca, dan aku seringkali merutuki takdir yang begitu kejam mencabut masa mudaku.
Pernah suatu malam, saat sistem keuangan warisan itu benar-benar kolaps karena kesalahanku, aku terduduk di lantai, membiarkan kegagalan memelukku erat. Tangisan itu bukan lagi tangisan frustrasi, melainkan tangisan penerimaan bahwa aku tidak tahu apa-apa. Idealismeku yang polos hancur berkeping-keping, digantikan oleh rasa pahit dan penyesalan yang mendalam.
Saat itulah aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah pencapaian, melainkan luka yang mengukir diri kita. Bekas luka itu menceritakan kisah tentang bertahan, tentang jatuh, dan tentang menemukan kekuatan yang kita sangka tidak kita miliki. Aku mulai melihat pantulan diriku di cermin: mata yang lebih tajam, garis wajah yang lebih tegas—bukan karena usia, tapi karena pertarungan.
Aku berhenti bertanya, "Mengapa ini terjadi padaku?" dan mulai bertanya, "Apa yang harus kulakukan sekarang?" Aku sadar bahwa babak sulit ini adalah esensi dari sebuah Novel kehidupan yang sesungguhnya, di mana karakter utama diuji hingga batasnya. Aku mulai belajar dari nol, membaca laporan keuangan yang rumit, dan bernegosiasi dengan suara yang bergetar namun tegas.
Aku menemukan kedamaian dalam disiplin, dalam bangun sebelum matahari terbit untuk menyelesaikan pekerjaan yang dulu selalu kutunda. Aku belajar bahwa tanggung jawab adalah cinta dalam bentuk yang paling keras; ia menuntut pengorbanan, tetapi juga memberikan kepuasan yang tak tertandingi saat melihat adikku tersenyum atau saat warisan keluarga itu kembali bernapas.
Pelan-pelan, aku mulai berdiri tegak, tidak lagi karena paksaan, melainkan karena pilihan. Kedewasaan memberiku hadiah termahal: pengetahuan bahwa aku mampu menghadapi badai apa pun, bahkan saat aku merasa sangat sendirian.
Meskipun badai telah berlalu dan langit mulai cerah, aku tahu bahwa Risa yang dulu telah tiada. Yang tersisa adalah Risa yang kuat, yang menyimpan semua bekas luka sebagai pengingat bahwa pengalaman pahit adalah guru terbaik. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, aku bisa menceritakan kisah ini kepada diriku yang lebih muda, dan membuatnya mengerti bahwa harga diri sejati ditemukan bukan pada kemudahan, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah.
.png)
.png)
