Dulu, duniaku hanyalah kanvas dan cat minyak. Aku selalu percaya bahwa kebebasan sejati ada di balik goresan kuas, jauh dari hiruk pikuk tanggung jawab yang membebani. Impianku adalah menjadi seniman murni, meninggalkan jejak abstrak di galeri-galeri kota besar.
Namun, semesta punya rencana yang jauh lebih nyata. Sebuah badai tak terduga menimpa keluarga, memaksa Ayahku meletakkan canting—alat warisan yang telah menghidupi kami selama tiga generasi. Bengkel Batik ‘Saraswati’ terancam gulung tikar, dan tiba-tiba, kebebasan yang kucari terasa dangkal.
Aku yang selalu merasa paling berhak atas waktu dan masa depanku, kini harus berdiri di tengah tumpukan kain mori dan aroma malam yang pekat. Keputusan untuk mengambil alih bengkel bukanlah pilihan romantis, melainkan sebuah paksaan yang dingin, mengikis semua ego yang selama ini kubangun.
Malam-malam awal terasa seperti siksaan. Aku harus berhadapan dengan perhitungan rugi-laba, mengelola puluhan pengrajin senior yang meragukan kemampuanku, dan belajar membedakan motif Parang Rusak dengan Kawung. Kedewasaan terasa seperti beban berat yang tiba-tiba diletakkan di pundakku yang kurus.
Di tengah kekacauan itu, aku menyadari satu hal: hidup ini adalah sebuah cetakan masif yang tak bisa diulang. Setiap kegagalan, setiap tetes lilin panas yang melukai tangan, adalah babak penting dalam Novel kehidupan yang harus kubaca sampai tuntas.
Aku mulai memahami bahwa kedewasaan bukan diukur dari usia, melainkan dari seberapa besar keberanian kita menghadapi kenyataan yang pahit. Aku belajar bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melayani, bukan memerintah, dan bahwa warisan adalah tanggung jawab yang harus dipeluk, bukan dihindari.
Perlahan, Saraswati kembali bernapas. Bukan karena keahlianku yang tiba-tiba muncul, melainkan karena kesediaan untuk mendengarkan dan merangkul tradisi. Aku menemukan keindahan yang berbeda; bukan keindahan abstrak di kanvas, melainkan keindahan komitmen dan ketahanan.
Pengalaman ini telah mengubah caraku melihat dunia. Risa yang dulu egois dan pencari kebebasan, kini menjadi Risa yang membumi, yang tahu bahwa akar yang kuat adalah prasyarat untuk tumbuh tinggi. Aku telah mengorbankan mimpiku, tetapi sebagai gantinya, aku mendapatkan diriku yang baru, yang jauh lebih utuh.
Lalu, bagaimana dengan mimpi menjadi seniman? Aku tersenyum tipis, memandang kain batik yang baru selesai dicelup. Kini, aku tidak lagi melukis di kanvas, tetapi aku melukis di atas waktu. Pertanyaannya, apakah aku benar-benar menyelamatkan warisan ini, atau justru warisan inilah yang menyelamatkan jiwaku dari kehampaan?
.png)
.png)
