JABARONLINE.COM - Ritual membatalkan puasa di tanah air hampir selalu didominasi oleh kehadiran aneka minuman manis yang menggugah selera. Sensasi segar yang ditawarkan seolah menjadi penawar dahaga paling efektif setelah seharian penuh menahan lapar dan haus. Namun, di balik kenikmatan tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang patut diwaspadai oleh setiap individu agar tetap bugar.
Asupan gula dalam jumlah besar secara mendadak saat berbuka dapat memicu lonjakan kadar glukosa dalam aliran darah secara drastis. Fenomena biologis ini memberikan tekanan ekstra pada organ pankreas yang harus bekerja keras memproses gula tersebut dalam waktu singkat. Akibatnya, sistem metabolisme tubuh mengalami guncangan yang sering kali tidak disadari oleh para pelaku ibadah puasa.
Masyarakat Indonesia sering kali tidak menyadari bahwa kebiasaan ini berdampak langsung pada kondisi fisik mereka sepanjang malam. Alih-alih mendapatkan energi tambahan, tubuh justru sering merasa lemas dan mengantuk sesaat setelah menyantap hidangan manis. Gejala kelelahan ini merupakan respon alami tubuh terhadap ketidakseimbangan kadar gula darah yang terjadi secara tiba-tiba.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya memahami mekanisme kerja tubuh saat merespons asupan glukosa tinggi setelah perut kosong seharian. Konsumsi gula berlebih yang tidak terkontrol dapat mengganggu stabilitas stamina yang sangat dibutuhkan selama menjalankan ibadah di bulan suci. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih cerdas dalam mengatur pola makan saat waktu berbuka telah tiba.
Tradisi mengonsumsi sajian manis memang telah berakar kuat dalam budaya lokal dan sulit untuk dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Fenomena ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian masyarakat selama bulan Ramadan berlangsung dari tahun ke tahun. Tanpa adanya kesadaran individu, pola konsumsi yang salah ini akan terus berulang dan berpotensi merugikan kesehatan.
Saat ini, tuntutan bagi individu untuk lebih selektif dalam memilih jenis pemanis yang masuk ke dalam tubuh semakin mendesak untuk dilakukan. Edukasi mengenai alternatif pemanis yang lebih sehat perlu terus diperhatikan agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih bijaksana. Kesadaran untuk menjaga kesehatan organ dalam harus menjadi prioritas utama di tengah keriuhan perayaan momen berbuka puasa.
Menjaga stamina selama berpuasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang bagaimana mengelola asupan nutrisi saat berbuka. Bijak dalam memilih menu takjil akan membantu tubuh tetap bugar dan produktif dalam menjalankan berbagai aktivitas ibadah malam. Dengan langkah sederhana ini, kualitas kesehatan masyarakat selama bulan suci Ramadan dapat terjaga dengan lebih optimal.
Sumber: Bisnismarket
