JABARONLINE.COM - Tragedi memilukan kembali menyelimuti masyarakat Indonesia menyusul serangkaian kasus kematian yang disebabkan oleh gigitan ular weling (Bungarus candidus). Kasus terbaru terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, di mana seorang bocah lelaki berinisial DK meninggal dunia setelah berjuang melawan bisa mematikan ular tersebut di rumah sakit.

Insiden ini melanjutkan catatan kelam setelah kejadian serupa yang menimpa seorang anak di Pekalongan, Jawa Tengah, pada tahun 2025, menunjukkan adanya pola serangan yang mengkhawatirkan. Kedua korban mengalami nasib tragis saat mereka sedang tertidur lelap di dalam kediaman mereka sendiri.

Korban di Tasikmalaya, DK yang berusia 12 tahun, merupakan warga Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kabupaten Tasikmalaya. Ia menghembuskan napas terakhir setelah ular weling sepanjang 1,5 meter dengan ketebalan sebesar jempol kaki mematuknya saat ia sedang tidur di lantai rumah bersama sang ibu pada Maret 2026.

DK harus menjalani perawatan intensif di RSUD KHZ Musthafa sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit swasta di Bandung untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Setelah berjuang selama 25 hari dalam masa kritis, kondisinya sempat membaik sebelum akhirnya menurun drastis dan dinyatakan meninggal dunia pada 22 April 2026.

Ayah korban memberikan kesaksian mengenai perjuangan panjang anaknya, "Senin dan Selasa sempat membaik, bahkan minta pulang ke Tasik. Total 25 hari dirawat. Maafkan anak saya," ujar Andis Kuswara selaku ayah korban.

Kisah serupa terjadi pada Rafa Ramadhani Suwondho, bocah 12 tahun dari Desa Bukur, Kabupaten Pekalongan, yang juga meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama sebulan penuh. Peristiwa ini terjadi pada 16 Juni 2025 sekitar pukul 04.00 WIB dini hari.

Awalnya, Rafa sempat diperbolehkan pulang dari RSUD Kajen setelah observasi dua jam karena hasil laboratorium darah menunjukkan angka normal. Namun, saat perjalanan pulang, Rafa mengalami kejang hebat dan harus dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi, Semarang, di mana ia koma di ruang PICU sebelum meninggal pada Minggu, 20 Juli 2025, pukul 00.32 WIB.

Dikutip dari Detikcom, ayah Rafa mengenang rencana yang sempat tertunda akibat tragedi ini, "Ya, rencana mau sunat, sudah persiapan. Sudah kurang lima hari, undangan sudah disebar," ujar Suwondo, ayah Rafa.

Kedua insiden ini menyoroti karakteristik berbahaya dari ular weling, yang cenderung aktif menyerang pada malam atau dini hari ketika penghuni rumah sedang beristirahat. Luka gigitan ular ini seringkali tampak samar dan tidak menimbulkan rasa sakit luar biasa pada awalnya, yang berpotensi mengecoh penilaian awal akan tingkat bahaya gigitan tersebut.