JABARONLINE.COM - Tekanan jual yang signifikan masih menghantui sektor perbankan di pasar modal Indonesia saat ini. Aktivitas pelepasan saham oleh investor asing terlihat semakin mendalam pada beberapa emiten perbankan unggulan.

Investor asing tampak gencar melakukan aksi jual bersih atau net sell pada saham-saham bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan juga saham Bank Central Asia (BBCA). Hal ini menjadi perhatian utama di tengah kondisi pasar saham domestik.

Meskipun tekanan jual tersebut terus terjadi, kinerja fundamental bank-bank tersebut pada periode Triwulan I tahun 2026 tercatat masih menunjukkan hasil yang solid. Akan tetapi, fundamental kuat tersebut belum cukup mampu menahan laju arus keluar dana asing yang cukup besar dari pasar.

Saham BBCA menjadi salah satu emiten yang menanggung beban tekanan paling berat dari aksi jual investor asing. Tercatat, net sell asing pada saham BBCA mencapai angka fantastis sebesar Rp 24,27 triliun sepanjang tahun berjalan hingga hari Jumat, 24 April.

Dampak dari penjualan besar-besaran ini terlihat langsung pada pergerakan harga saham BBCA yang mengalami kontraksi signifikan. "Saham BBCA turun 25% sepanjang tahun ini hingga Jumat (24/4)," informasi ini didapatkan dari KONTAN.CO.ID.

Jika dilihat dalam jangka waktu lima tahun terakhir, kinerja saham BBCA juga menunjukkan tren negatif yang cukup dalam. "Dalam lima tahun tercatat sudah minus 5,3%," demikian tercatat dari analisis pasar terkini.

Selain BBCA, saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga turut mengalami koreksi harga yang cukup tajam akibat tekanan jual asing. Saham BBRI diketahui telah terkoreksi sebesar 16,12% dalam periode yang sama.

Aksi jual bersih asing pada saham BBRI juga terbilang substansial, dengan total dana keluar tercatat mencapai Rp6,81 triliun. Hal ini menunjukkan adanya sentimen negatif yang sedang mempengaruhi persepsi investor terhadap saham perbankan.

Kinerja jangka panjang saham BBRI juga mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode lima tahun sebelumnya. "BBRI dalam lima tahun sudah anjlok 25,9%," menurut data perdagangan terbaru.