Dunia yang kukenal selalu beraroma tanah liat basah dan glasir yang manis. Aku adalah Risa, si pemimpi yang yakin masa depannya ada di galeri seni metropolitan, jauh dari tungku pembakaran kuno milik ayah. Namun, semesta punya rencana lain; rencana yang mengharuskanku membatalkan tiket keberangkatan dan menggenggam kunci studio yang kini terasa berat.

Ayah terbaring lemah, dan studio keramik yang dibangunnya selama puluhan tahun berada di ambang kehancuran. Tumpukan tagihan, pesanan yang terbengkalai, dan raut wajah cemas para pekerja adalah realitas baru yang tiba-tiba menuntut perhatianku. Aku harus memilih: mengejar beasiswa impianku atau menyelamatkan warisan keluarga yang kini terasa seperti beban.

Awalnya, aku gagal total. Aku mencoba teknik modern, mengabaikan metode tradisional ayah, dan hasilnya adalah ledakan kecil di tungku. Kerugian bukan hanya materi, tapi juga harga diri. Aku duduk di lantai dingin studio, dikelilingi puing-puing keramik yang hangus, merasa seperti anak kecil yang baru saja memecahkan vas kesayangan.

Malam-malam panjang dihabiskan untuk mempelajari pembukuan yang rumit dan suhu pembakaran yang mematikan. Aku yang biasanya hanya peduli pada estetika, kini harus menghitung biaya produksi dan memohon penundaan pembayaran utang. Kedewasaan terasa seperti baju besi yang terlalu besar dan berat, memaksaku berdiri tegak meski bahuku terasa remuk.

Aku ingat saat seorang pemasok tua menatapku dengan iba. "Kamu terlalu lembut, Nak. Tanah liat tidak akan patuh jika kamu hanya merengek. Dia butuh tangan yang tegas, walau lembut di saat yang sama." Kata-katanya menusuk, tetapi membuka mataku. Aku harus berhenti meratapi kehidupan lamaku yang hilang dan mulai membentuk kehidupan baru ini.

Saat itulah aku menyadari, bahwa apa yang kualami ini bukanlah sekadar drama keluarga biasa, melainkan lembaran paling penting dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, tanpa editor atau pengaman. Setiap kegagalan adalah babak revisi, setiap air mata adalah tinta yang memperkuat alur cerita.

Proses mengolah tanah liat menjadi cawan yang indah adalah metafora sempurna untuk proses pendewasaan. Dibentuk, diuji panas yang ekstrem, dan baru kemudian dilapisi glasir agar bersinar. Tanpa panas itu, kami hanya akan menjadi gumpalan lumpur yang mudah hancur.

Perlahan, studio mulai bangkit. Bukan karena aku menjadi seniman yang lebih baik, tetapi karena aku menjadi manajer yang lebih bertanggung jawab dan manusia yang lebih tangguh. Aku belajar bahwa kedewasaan bukanlah tentang memiliki semua jawaban, tetapi tentang keberanian untuk terus bertanya dan berjuang di tengah ketidakpastian.

Kini, aku berdiri di depan tungku, mengawasi api yang menari. Aku tidak lagi melihat studio ini sebagai penjara, melainkan sebagai tempat kelahiran kembali diriku. Aku telah kehilangan impian seni yang berkilauan, tetapi sebagai gantinya, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: kekuatan untuk memegang kendali atas takdirku sendiri, meskipun tangan yang memegang kendali itu penuh bekas luka.