Tiket menuju benua seberang itu terlipat rapi di sudut laci, menjadi saksi bisu atas mimpi yang harus ditunda, bahkan mungkin dikubur. Aku selalu membayangkan diriku berjalan di galeri seni Eropa, bukan berdiri di balik meja kasir toko bunga kecil milik Ayah.

Namun, ketika badai itu datang tanpa permisi—saat kesehatan Ayah tiba-tiba merenggut kemampuannya memimpin—dunia yang kukenal hancur berkeping. Keputusan harus diambil cepat, antara egoisme meraih impian atau tanggung jawab merawat fondasi yang telah dibangun keluarga.

Sikat lukis dan kanvas mahal terbungkus dalam peti kayu, digantikan oleh buku kas dan daftar utang yang menumpuk. Transisi dari seorang seniman muda yang idealis menjadi seorang manajer yang pragmatis terasa seperti memakai baju yang dua ukuran terlalu besar.

Setiap pagi, aroma tanah dan bunga segar menggantikan bau cat minyak yang kurindukan, memaksa indraku beradaptasi pada kenyataan baru. Aku belajar bernegosiasi dengan pemasok, menghitung untung rugi yang tipis, dan tersenyum tulus kepada pelanggan meskipun hati sedang remuk.

Aku ingat malam-malam tanpa tidur, mencoba menyeimbangkan pembukuan yang selalu miring, air mata sering menetes membasahi angka-angka. Namun, dari kelelahan itu, muncul kekuatan aneh yang tidak pernah kuduga ada dalam diriku; kekuatan untuk bertahan dan menolak menyerah.

Inilah bagian paling jujur dari sebuah perjalanan. Aku sadar, kisah yang kujalani kini adalah sebuah lembaran penting dalam Novel kehidupan yang sesungguhnya. Aku tidak lagi membaca teori kedewasaan; aku hidup di dalamnya, bab demi bab.

Kedewasaan ternyata bukan tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa besar kita mampu menanggung beban yang tak pernah kita minta. Aku belajar bahwa pengorbanan bukanlah akhir, melainkan jembatan menuju pemahaman diri yang lebih mendalam.

Aku mulai memasukkan sentuhan seni pada setiap rangkaian bunga, menjadikannya instalasi kecil yang berbicara tentang harapan dan ketahanan. Toko bunga itu perlahan hidup kembali, bukan hanya sebagai bisnis, tetapi sebagai galeri kecil dari hatiku yang terluka.

Malam itu, aku membuka laci dan mengambil tiket yang sudah usang. Impian itu masih ada, tetapi aku kini tahu bahwa aku jauh lebih siap untuk meraihnya, setelah lebih dulu belajar bagaimana cara membangun dan menjaga sesuatu yang rapuh.