Telegram itu tiba di tengah malam, merobek ketenangan ambisi masa depan yang selama ini kurajut. Semua rencana studi dan cita-cita tinggi yang kubangun di atas pondasi teori tiba-tiba runtuh, digantikan oleh kenyataan pahit: ‘Bengkel Cahaya’, warisan kakek, terancam gulung tikar dan Ayah harus istirahat total. Aku, yang selama ini hanya mengenal buku, dipaksa mengenal bau oli dan debu kayu.
Awalnya, aku memberontak. Aku merasa dunia tidak adil, seolah gelar sarjana yang hampir kuraih tidak berarti apa-apa di hadapan tumpukan utang dan tuntutan para pekerja yang berharap banyak padaku. Aku mencoba menerapkan semua teori manajemen yang kupelajari, tetapi teori itu terasa hambar dan kaku di hadapan masalah riil yang berdarah dan bernyawa.
Ego masa mudaku membuatku sering bertengkar dengan para staf senior, menganggap cara kerja tradisional mereka usang dan lambat. Aku ingin perubahan instan, sebuah solusi ajaib yang bisa menyelamatkan kami tanpa harus mengotori tanganku sendiri. Tentu saja, hasil dari kesombongan itu adalah kegagalan besar: sebuah pesanan penting rusak total karena kurangnya pengawasan dan komunikasi yang buruk.
Malam itu, saat duduk di antara puing-puing kayu yang seharusnya menjadi mahakarya, aku merasa hancur. Bukan hanya karena kerugian materi, tetapi karena aku menyadari betapa rapuhnya diriku tanpa jaring pengaman. Kegagalan itu menelanjangiku, memperlihatkan bahwa kedewasaan bukan soal usia, melainkan soal kemampuan menanggung beban yang tak terduga.
Pak Tua Hasan, kepala tukang yang sudah mengabdi puluhan tahun, hanya menepuk bahuku tanpa berkata apa-apa. Ia tidak menghakimiku; ia hanya menunjukkan caranya mengamplas kayu, pelan dan sabar, menghilangkan serpihan tajam satu per satu. Ia mengajarkanku bahwa perbaikan paling mendasar selalu dimulai dari detail yang paling kecil, bukan dari rencana besar di atas kertas.
Aku mulai mengubah sikap. Aku membuang jas dan menggantinya dengan kaus belel, belajar mengelas, dan memperbaiki mesin yang rusak. Aku mulai mendengarkan cerita para pekerja, memahami bahwa setiap orang di bengkel ini membawa kisah perjuangan mereka sendiri, dan bahwa aku adalah bagian dari jalinan kisah itu.
Perlahan aku menyadari bahwa seluruh perjalanan ini adalah sebuah babak yang tak terduga dan paling mendalam dari Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri. Setiap luka, setiap kerugian, dan setiap tetes keringat adalah tinta yang membentuk karakterku, jauh lebih efektif daripada ribuan halaman buku teks yang pernah kubaca di bangku kuliah.
Aku tidak lagi mencari jalan pintas atau solusi instan; yang kucari adalah ketahanan. Bengkel Cahaya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi fondasinya kini lebih kuat karena dibangun di atas rasa hormat dan tanggung jawab yang tulus. Aku telah menemukan kekuatan dalam kerentanan, dan kedewasaan dalam penerimaan.
Kini, aku berdiri di tengah Bengkel Cahaya, menyaksikan api las yang menyala. Aku mungkin kehilangan masa muda yang riang, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah peta yang terukir di telapak tanganku yang kasar. Jika besok ada badai lain yang datang, apakah aku akan mampu bertahan, atau justru menyerah pada takdir yang begitu keras?
.png)
.png)
