Koper yang seharusnya mengantarkanku ke bandara kini teronggok di sudut gudang, diselimuti debu malam yang pekat. Aku masih ingat aroma tiket pesawat yang kubatalkan, bau kertas yang mewakili seluruh masa depan yang telah kurancang sempurna, kini hangus tak bersisa. Keputusan untuk kembali ke kota kecil ini terasa seperti hukuman, bukan pengorbanan.
Bengkel Batik ‘Sekar Kencana’ yang diidamkan Ayah kini hanya menyisakan gemerisik sepi dan tumpukan utang yang membayangi. Dinding-dindingnya yang dulu dipenuhi motif ceria kini terasa kelabu, seolah ikut menanggung beban sakit Ayah yang tak terduga. Aku, lulusan terbaik di bidang Ekonomi, harus menukar grafik dan analisis saham dengan perhitungan harga lilin dan upah pekerja yang menuntut hak mereka.
Awalnya, aku memberontak. Setiap tetes malam yang menempel di jemariku terasa seperti noda kegagalan, menghapus citra diriku sebagai wanita karier yang cemerlang. Aku membenci bau indigonya, membenci tatapan skeptis para pengrajin tua yang meragukan kemampuanku memimpin warisan turun-temurun.
Namun, di tengah keheningan malam, saat hanya ada suara jangkrik dan desah napas Ayah dari kamar sebelah, aku mulai menyadari sesuatu. Kedewasaan bukanlah tentang mencapai puncak ambisi, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan ketika fondasi hidup runtuh. Aku mulai mempelajari setiap lekukan canting, setiap filosofi motif yang dulu kuanggap kuno.
Aku mendapati diriku berdiri di depan tungku panas selama berjam-jam, mencoba memahami suhu yang tepat untuk mencairkan lilin, sebuah proses yang jauh lebih rumit dari teori ekonomi mana pun. Aku belajar bahwa kesabaran para pengrajin adalah harta karun, dan kepercayaan mereka harus didapatkan, bukan diwariskan.
Perlahan, aku menerima bahwa episode ini adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Bukan di gedung pencakar langit, melainkan di lantai bengkel yang dingin ini, aku menemukan makna tanggung jawab dan kekuatan yang selama ini tersembunyi. Rasa pahit itu mulai berubah menjadi keteguhan yang aneh, menumbuhkan akar yang kuat di tanah yang selama ini kutinggalkan.
Tangan yang dulu hanya terbiasa memegang pena mahal, kini kasar dan bernoda indigo, tetapi pandanganku tidak lagi kabur. Aku mulai melihat keindahan dari setiap serat kain yang berhasil dipertahankan, sebuah perlawanan kecil terhadap krisis yang ingin menenggelamkan kami. Kami berhasil menyelesaikan pesanan besar pertama setelah hampir bangkrut, dan senyum lega para pekerja adalah pembayaran yang tak ternilai.
Aku tidak tahu apakah Sekar Kencana akan kembali berjaya seperti dulu, atau apakah aku akan kembali mengejar mimpi yang sempat tertunda itu. Namun, satu hal yang pasti: Risa yang berdiri di sini sekarang, yang berani menatap api tungku tanpa gentar, adalah versi diriku yang jauh lebih utuh.
Malam itu, saat aku mematikan lampu bengkel, aku menyadari bahwa aku tidak lagi berduka atas masa depan yang hilang. Aku justru bersyukur atas badai yang memaksaku tumbuh. Sebab, terkadang, kita harus kehilangan peta agar bisa benar-benar menemukan arah kita sendiri.
.png)
.png)
