Aku selalu percaya bahwa hidupku adalah jalur cepat menuju puncak, mulus tanpa hambatan berarti. Aku memegang peta yang diyakini semua orang akan mengantarkanku pada kesuksesan instan, sebuah keyakinan yang dibangun di atas fondasi kemudahan yang rapuh. Namun, keyakinan itu hancur berkeping-keping saat proyek ambisius yang kuusahakan selama bertahun-tahun runtuh dalam semalam.
Kegagalan itu datang bukan sebagai bisikan, melainkan sebagai hantaman keras yang memecahkan jendela kaca idealisme di hadapanku. Aku terlempar dari ketinggian mimpi ke tanah realitas yang kasar, merasakan perihnya luka yang tidak bisa disembuhkan dengan permintaan maaf atau uang. Rasa malu dan kebingungan menyelimuti, membuatku mempertanyakan setiap keputusan yang pernah kubuat.
Dunia yang tadinya penuh warna kini terasa abu-abu dan dingin. Aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan zona nyaman yang ternyata selama ini hanya meninabobokanku dalam kepura-puraan. Aku mencari tempat baru, sebuah kota yang tidak mengenal namaku, agar aku bisa memulai pembangunan diri yang sesungguhnya dari puing-puing yang tersisa.
Di tempat baru itu, aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang mencapai target besar, melainkan tentang bertahan dari hari ke hari. Aku harus melakukan pekerjaan kasar yang jauh dari gelar sarjanaku, menghadapi penolakan yang tak terhitung jumlahnya, dan tidur dengan perut yang sering kali terasa kosong. Setiap keringat yang menetes adalah pelajaran tentang nilai sejati dari sebuah perjuangan.
Saat itulah aku mulai menyadari bahwa cerita hidupku jauh lebih kompleks dan mendalam dari yang kubayangkan. Inilah esensi dari Novel kehidupan yang sesungguhnya; di mana babak paling menyakitkan justru menjadi fondasi bagi alur cerita yang paling kuat. Aku berhenti menyalahkan takdir dan mulai mengambil pena untuk menulis ulang naskahku sendiri.
Proses pendewasaan ini mengajarkan kepadaku pentingnya perencanaan yang matang, bukan sekadar optimisme buta. Aku belajar bahwa tanggung jawab adalah beban terberat sekaligus hadiah terbaik; ia memaksa kita untuk berdiri teguh, tidak peduli seberapa kencang badai menerpa. Kebijaksanaan mulai menggantikan kesombongan yang dulu begitu melekat.
Aku bukan lagi Risa yang dulu, yang mengira kebahagiaan adalah garis finis yang harus dicapai secepat mungkin. Risa yang sekarang menghargai proses, menghargai setiap batu sandungan yang membentuk otot mentalnya. Aku melihat ke belakang, pada sosokku yang naif, dan tersenyum—betapa jauhnya perjalanan yang sudah kutempuh.
Pelajaran termahal dalam hidupku adalah bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan titik balik. Ia membersihkan segala ilusi, menyisakan inti diri yang paling murni dan tangguh. Tanpa patahan itu, aku mungkin akan selamanya menjadi manusia yang rapuh di balik penampilan yang percaya diri.
Kini, aku kembali membangun, bata demi bata, tanpa tergesa-gesa, tahu bahwa bangunan yang kokoh memerlukan waktu dan ketahanan. Namun, pertanyaannya tetap menggantung: apakah bangunan baru ini akan mampu menahan ujian terakhir yang menanti, ujian yang akan menguji bukan hanya kekuatanku, tetapi juga kerelaanku untuk memaafkan masa lalu sepenuhnya?
.png)
.png)
