JABARONLINE.COM - Ancaman keamanan siber di Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu dua tahun terakhir, mendorong perlunya adopsi teknologi baru untuk mitigasi. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini diposisikan bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan mitra strategis krusial dalam memperkuat pertahanan digital nasional.

General Manager Virtus, Wisnu Nursahid, menyoroti peran AI dalam membantu mengatasi beban kerja siber yang bersifat repetitif dan otomatis. Hal ini memberikan keuntungan besar bagi para profesional keamanan untuk mengalihkan fokus mereka ke area yang lebih fundamental.

"Jadi, kalau dimaknai secara positif, AI merupakan mitra kerja kita, terutama untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya repetitif dan otomatis. Dengan begitu, manusia bisa lebih fokus pada hal-hal yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan," kata Wisnu.

Volume serangan siber di ruang digital Indonesia menunjukkan skala yang sangat besar, berdasarkan data yang dipaparkan oleh Wisnu. Kenaikan serangan ini menggarisbawahi urgensi peningkatan kapabilitas pertahanan.

"Berdasarkan data yang sempat saya sampaikan, pada tahun 2025 terdapat sekitar 5,5 miliar serangan. Sementara itu, pada tahun 2026, baru kuartal pertama saja sudah mencapai sekitar 1,5 miliar serangan," ujar Wisnu.

Tantangan berikutnya yang dihadapi para praktisi keamanan adalah kemampuan mengidentifikasi serangan yang didorong oleh kecerdasan buatan atau AI-driven attack. Pemetaan pola ancaman yang semakin kompleks ini memerlukan analisis mendalam.

"Menarik jika kita bisa mengategorikan dari seluruh serangan tersebut, mana yang merupakan AI-driven attack. Ini bisa menjadi bahan analisis yang penting. Mungkin data dari Red Intelligence jika dikombinasikan dengan data dari BSSN dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai landscape serangan, khususnya yang berbasis AI," tutur Wisnu.

Meskipun demikian, ketersediaan data akurat mengenai proporsi serangan yang digerakkan oleh AI masih menjadi kendala saat ini. Diperlukan mekanisme pengumpulan data yang lebih canggih untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai lanskap ancaman tersebut.

"Namun, hingga saat ini kami sendiri belum memiliki data yang benar-benar pasti terkait proporsi serangan berbasis AI tersebut. Kemungkinan, data yang lebih detail bisa diperoleh dari platform intelligence yang memang memiliki kapabilitas pengumpulan dan analisis data yang lebih komprehensif. Untuk itu, proses kategorisasi dan workflow perlu dibuat lebih rigid agar menghasilkan data yang lebih akurat," kata Wisnu.