JABARONLINE.COM - Pada hari Jumat, 24 April 2026, pasar emas dunia menunjukkan tren penurunan signifikan, bersiap menghadapi pelemahan mingguan pertama setelah lima pekan sebelumnya mencatatkan kenaikan. Penurunan ini terjadi sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Koreksi harga ini juga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar akan risiko inflasi global yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah. Data menunjukkan bahwa emas spot melemah 0,2 persen, mencapai level terendah sejak pertengahan April di angka US$4.683,23 per ons.

Sementara itu, kontrak berjangka emas di Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Juni juga terpantau merosot 0,5 persen menjadi US$4.699. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun yang mencapai level 2 persen sepanjang pekan tersebut.

Analis independen, Ross Norman, menyoroti perkembangan di Selat Hormuz sebagai faktor utama yang menekan pergerakan harga logam mulia saat ini. "Pergerakan harga minyak di Selat Hormuz akan menjadi titik tekan utama bagi pasar logam mulia saat ini dan akan tetap tinggi," ujar Ross Norman, Analis Independen.

Norman menambahkan bahwa emas sedang menghadapi kesulitan untuk membangun momentum kenaikan karena gagal menembus batas harga atas yang telah ditetapkan sebelumnya. "Kenyataannya, emas kesulitan mendapatkan momentum kenaikan. Ketika Anda tidak bisa menembus batas atas, Anda cenderung menyerang batas bawah, dan saya pikir itulah posisi kita saat ini," tambah Norman.

Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal yang memasang ranjau di selat tersebut. Pentagon juga melaporkan bahwa pasukan AS telah menaiki kapal tanpa kewarganegaraan yang diduga mengangkut minyak dari Iran di Samudra Hindia.

Dalam pernyataan publiknya, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan damai dengan pihak Iran dalam waktu dekat. "everlasting," kata Donald Trump, Presiden AS.

Para ahli memperingatkan investor mengenai potensi volatilitas ekstrem sepanjang tahun 2026, meskipun tren jangka panjang emas masih dianggap positif. Thomas Winmill dari Midas Funds memproyeksikan adanya kemungkinan koreksi harga hingga 20 persen dalam jangka pendek.

Brett Elliott, Direktur Konten di American Precious Metals Exchange (APMEX), memberikan proyeksi harga yang lebih luas untuk tahun ini. "Berdasarkan perkiraan emas terbaru yang telah kami lihat, emas diperkirakan akan rata-rata US$4.500 tahun ini, dan berpotensi mencapai puncaknya di US$5.800," kata Brett Elliott, Direktur Konten di American Precious Metals Exchange (APMEX).