Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah tentang mencapai setiap target yang kubuat di usia dua puluhan. Aku punya peta jalan yang jelas, dihiasi janji kesuksesan yang berkilauan dan dipuji banyak orang. Namun, semesta punya cara yang brutal dan tak terduga untuk merobek peta itu menjadi serpihan kecil tak berarti.

Puncak dari kesombonganku hancur ketika proyek impian yang kubangun selama bertahun-tahun—yang kuharap menjadi warisan—runtuh tanpa sisa. Kehilangan itu bukan hanya finansial; itu adalah pukulan telak bagi harga diriku yang selama ini kusandarkan pada gelar dan jabatan mentereng. Tiba-tiba, aku hanyalah Risa, tanpa embel-embel apa pun.

Aku mengasingkan diri ke sebuah pondok kecil yang sunyi di pedalaman, jauh dari hiruk pikuk kota yang pernah kusebut ‘kehidupan nyata’. Di sana, cermin tidak memantulkan wanita sukses, hanya seorang asing yang matanya dipenuhi pertanyaan dan kelelahan. Malam-malam terasa panjang, diisi bisikan penyesalan yang tak kunjung padam dan rasa malu yang mendalam.

Untuk bertahan hidup, aku mulai bekerja serabutan, menerima pekerjaan memilah biji kopi di sebuah pabrik kecil milik tetua desa. Tangan yang terbiasa mengetik laporan kini kasar, kapalan, dan beraroma tanah yang kuat. Proses sederhana ini mengajarkanku ritme baru, sebuah penghargaan terhadap kerja keras yang jujur dan tak perlu validasi.

Aku menyadari bahwa setiap kegagalan adalah babak krusial yang membentuk alur ceritaku. Ini adalah bagian yang paling jujur dan paling menyakitkan dari Novel kehidupan yang sedang kutulis, tempat karakter utama harus benar-benar diuji. Kedewasaan bukanlah garis akhir yang harus dicapai, melainkan kemampuan untuk terus membalik halaman, meskipun tinta bab sebelumnya masih basah dan terasa perih.

Perlahan, aku berhenti mencari validasi dari luar, terutama dari media sosial dan lingkaran pertemananku yang glamor. Kebahagiaan mulai kutemukan dalam hal-hal kecil: secangkir kopi pahit yang kunikmati tanpa terburu-buru, atau senyum tulus dari rekan kerja yang tak tahu masa laluku. Kekuatan sejati ternyata bukan terletak pada kekuasaan, melainkan pada ketenangan hati yang menerima.

Ketika aku akhirnya kembali ke kota, langkahku berbeda; tidak ada lagi tergesa-gesa mengejar bayangan masa lalu yang fana. Aku membawa serta pelajaran dari biji kopi dan pondok sunyi itu, menjadikannya perisai baru yang tak terlihat. Pengalaman itu telah mengikis lapisan ego yang tebal, meninggalkan esensi diriku yang lebih lembut dan jauh lebih kuat.

Aku belajar bahwa menjadi dewasa berarti menerima ketidaksempurnaan dan berdamai dengan proses yang lambat, seolah waktu memiliki kebijaksanaannya sendiri. Aku telah berhenti mencoba mengontrol takdir, dan mulai belajar menari bersama ketidakpastian.

Kini, ketika aku menatap cakrawala, aku tidak lagi melihat peta, melainkan lautan terbuka yang menantang. Aku tahu badai pasti datang lagi, tapi kali ini, aku sudah memiliki jangkar yang kokoh. Namun, apakah jangkar ini cukup kuat menahan gelombang kejutan baru yang baru saja datang padaku pagi ini, dalam bentuk surat panggilan dari masa lalu yang kukira sudah terkubur?