Aku ingat betul diriku yang dulu, seorang pemimpi yang hanya tahu cara mengejar siluet senja dan menghabiskan hari di depan kanvas. Dunia terasa seperti galeri tak terbatas, tempat setiap warna adalah janji kebebasan dan perjalanan jauh. Kedewasaan hanyalah kata yang tertera di kartu identitas, bukan beban yang harus dipikul di pundak.
Semua berubah saat kabar itu datang, mendadak dan dingin seperti embun pagi di musim kemarau. Ayah harus beristirahat total, dan bengkel kayu kecil yang menjadi napas ekonomi keluarga mendadak kehilangan nahkoda. Dalam semalam, kuas di tanganku berganti palu dan kalkulator, menuntut perhitungan yang jauh lebih rumit daripada komposisi warna.
Awalnya adalah penolakan yang membara; aku merasa duniaku direnggut, impian beasiswa ke luar negeri terkubur di bawah tumpukan serbuk kayu. Aku sering menangis diam-diam di gudang belakang, merasa tidak adil bahwa aku, yang paling tidak mengerti tentang bisnis, harus menjadi benteng pertahanan. Rasa benci terhadap takdir adalah teman setiaku saat itu.
Namun, tuntutan hidup tidak mengenal kata menyerah atau mengasihani diri sendiri. Aku mulai belajar membedakan jenis kayu, bernegosiasi harga dengan pemasok yang licik, dan memastikan gaji karyawan tetap terbayar tepat waktu. Setiap kesalahan adalah pukulan, tetapi juga pelajaran berharga yang mengukir garis ketegasan di wajahku.
Seiring waktu berjalan, aku menyadari bahwa fase ini, meskipun menyakitkan, adalah skenario paling penting dalam hidupku. Ini adalah Novel kehidupan yang ditulis oleh takdir, di mana tokoh utamanya dipaksa tumbuh dalam situasi yang paling tidak ia inginkan. Aku mulai menghargai setiap tetes keringat dan setiap sen yang didapatkan dengan susah payah.
Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai usia tertentu, melainkan tentang kemampuan berdiri tegak ketika badai menghantam, bahkan saat kau merasa kakimu sudah terlalu lelah untuk menopang. Aku tidak lagi mencari kebebasan dalam pelarian, tetapi menemukannya dalam ketenangan saat berhasil menyelesaikan pesanan besar tepat waktu.
Aku mungkin kehilangan kesempatan untuk melukis di studio impianku, tetapi kini aku melukis senyum di wajah Ibu dan adikku. Pengorbanan yang dulu terasa pahit kini menjelma menjadi kepuasan yang tak tertandingi. Aku belajar bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa keras kita berpegangan pada mimpi lama, tetapi seberapa luwes kita menyesuaikan diri dengan realitas baru.
Suatu malam, saat aku duduk sendirian di bengkel yang sunyi, tanganku yang kini kasar menyentuh papan kayu yang baru diampelas. Aku tersenyum tipis, menyadari bahwa aku telah menjadi orang yang sama sekali berbeda—seseorang yang lebih tangguh, lebih bijaksana, dan lebih menghargai proses daripada hasil.
Kini, aku tidak lagi takut pada masa depan. Aku telah melewati lembah tergelap dan menemukan bahwa di sana, di tengah keputusasaan, ada benih kekuatan yang menanti untuk tumbuh. Pertanyaannya sekarang, setelah semua ini, babak baru apa yang akan dibuka oleh takdir untukku?
.png)
.png)
