Tiket keberangkatan itu terasa dingin di telapak tangan Risa, menjanjikan gerbang menuju masa depan yang selalu ia lukis dalam mimpi. Beasiswa penuh di universitas Eropa adalah puncak dari segala kerja kerasnya, sebuah penantian panjang yang akhirnya terbayar lunas. Ia sudah membayangkan aroma buku-buku lama di perpustakaan asing dan salju pertama yang akan menyentuh jaket tebalnya.

Namun, semesta punya skenario lain yang jauh lebih mendesak dan menyakitkan. Tepat dua minggu sebelum jadwal keberangkatan, telepon berdering membawa kabar bahwa Ayah ambruk dan kafe kecil kami, ‘Senja Abadi’, sedang menghadapi jurang kebangkrutan. Semua tabungan keluarga telah terkuras habis untuk menutupi utang yang tak terduga.

Dalam sekejap, gairah akan petualangan masa depan itu berubah menjadi beban yang menyesakkan dada. Risa berdiri di persimpangan yang gelap; memilih ego dan mimpi pribadinya, atau memilih tanggung jawab yang tiba-tiba menuntutnya untuk menjadi pilar bagi keluarga yang rapuh. Ini bukan lagi soal karier, ini soal keberlangsungan hidup.

Keputusan itu diucapkan tanpa air mata, namun dengan rasa sakit yang menusuk hingga ke ulu hati: Risa membatalkan kepergiannya. Tiket yang dingin itu kini terasa seperti abu, dan ia mengganti tas koper berisi buku dengan celemek berlumur kopi, siap menghadapi kenyataan pahit bahwa ia harus belajar mengelola bisnis yang sekarat.

Hari-hari awal di ‘Senja Abadi’ adalah neraka yang penuh angka merah dan tatapan iba dari para pelanggan setia. Ia harus berhadapan dengan pemasok yang menagih dengan nada tinggi dan karyawan yang kehilangan harapan. Risa yang dulu hanya peduli pada teori filsafat, kini harus memahami seluk-beluk manajemen keuangan dan seni meracik kopi yang sempurna.

Setiap kegagalan kecil, setiap penolakan, dan setiap malam tanpa tidur adalah babak baru yang mengajarkan arti ketahanan. Risa menyadari, apa yang ia jalani ini adalah sebuah ujian yang lebih kompleks dan nyata dibandingkan skripsi manapun. Inilah esensi sejati dari sebuah Novel kehidupan, di mana setiap luka adalah tinta yang membentuk karakter.

Perlahan, Risa mulai menemukan ritme baru. Ia mengubah interior kafe, memperkenalkan menu baru, dan belajar mendengarkan keluh kesah Ayah yang kini hanya bisa duduk di kursi roda. Ia tidak lagi mencari kebahagiaan dari pencapaian besar, melainkan dari senyum kecil Ayah saat melihat kafe kembali ramai.

Ia harus melepaskan citra dirinya yang lama—seorang pemimpi yang idealis—dan merangkul Risa yang baru, yang pragmatis dan kuat. Kedewasaan ternyata bukan didapat dari usia atau gelar, melainkan dari seberapa besar kita berani mengorbankan diri demi cinta dan tanggung jawab yang kita pikul.

Mungkin ia telah kehilangan kesempatan untuk melihat menara Eiffel, tetapi ia menemukan kekuatannya di balik mesin espresso yang panas. Senja Abadi kini terselamatkan, namun Risa masih menyimpan pertanyaan itu di lubuk hati: Setelah semua badai ini berlalu, apakah masih ada tempat untuk mimpi yang pernah ia kubur dalam-dalam?