JABARONLINE.COM - PT Timah (Persero) Tbk (TINS) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang sangat solid sepanjang tahun buku 2025, dengan membukukan laba bersih mencapai Rp1,31 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan performa perusahaan yang menggembirakan.

Hasil laba bersih yang diraih oleh TINS ini diketahui telah melampaui target yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025. Pencapaian ini mencapai 119 persen dari rencana yang telah disusun sebelumnya oleh perseroan.

Faktor utama yang mendorong kenaikan laba ini adalah lonjakan pendapatan perusahaan yang tumbuh sebesar 6,41 persen. Pendapatan TINS di tahun 2025 tercatat sebesar Rp11,55 triliun, naik dari perolehan tahun 2024 yang senilai Rp10,86 triliun.

Kenaikan pendapatan tersebut sangat dipengaruhi oleh tren positif harga jual rata-rata logam timah di pasar internasional sepanjang tahun 2025. Permintaan global yang meningkat untuk kebutuhan panel fotovoltaik, semikonduktor, dan teknologi energi transisi menjadi pendorong utama kenaikan harga timah.

Data dari London Metal Exchange (LME) menunjukkan bahwa harga rata-rata cash settlement price pada tahun 2025 mencapai US$34.119,96 per ton. Angka ini merupakan kenaikan substansial sebesar 13 persen dibandingkan harga tahun 2024 yang berada di level US$30.177,45 per ton.

Meski demikian, terjadi peningkatan pada beban pokok pendapatan perusahaan sebesar 8,41 persen, dari Rp8,11 triliun pada 2024 menjadi Rp8,79 triliun di tahun 2025. Meskipun beban operasional meningkat, TINS tetap mampu mengamankan laba usaha sebesar Rp1,91 triliun dan EBITDA menyentuh Rp2,76 triliun.

"Pada tahun 2025, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan," ujar Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro.

Kesehatan finansial perusahaan juga terlihat dari pertumbuhan nilai aset yang mencapai Rp13,64 triliun pada akhir 2025, tumbuh 6,75 persen dari Rp12,78 triliun di tahun sebelumnya. Peningkatan aset ini dipengaruhi oleh posisi piutang usaha yang belum jatuh tempo saat penutupan buku akhir tahun.

Sementara itu, liabilitas perseroan hanya tumbuh tipis 0,80 persen menjadi Rp5,23 triliun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp5,19 triliun. Sejalan dengan akumulasi laba yang dibukukan, posisi ekuitas melonjak signifikan sebesar 10,83 persen menjadi Rp8,41 triliun.