Aku selalu membayangkan kedewasaan adalah pencapaian, sebuah podium setelah melewati garis finis perkuliahan. Aku pikir, setelah toga itu terlepas, dunia akan menyambutku dengan karpet merah dan pekerjaan impian yang sesuai dengan gelar yang kubanggakan. Namun, semesta punya cara yang jauh lebih brutal, sekaligus indah, untuk mengajarkanku arti sesungguhnya dari tumbuh.
Badai itu datang tanpa peringatan, menerjang saat aku sedang sibuk merencanakan masa depan yang gemilang. Kesehatan Ayah tiba-tiba menurun drastis, dan bersamaan dengan itu, usaha keluarga yang menjadi tumpuan kami ambruk dihempas krisis. Seketika, aku bukan lagi seorang lulusan muda yang bebas memilih; aku adalah kepala keluarga yang harus memastikan dapur tetap mengepul.
Semua rencana yang tersusun rapi di buku catatan harus kusingkirkan dan kuganti dengan jadwal kerja serabutan yang tak mengenal waktu. Aku yang dulu hanya mengenal AC kantor dan aroma kopi mahal, kini harus berpeluh di bawah terik matahari, mengangkut barang, atau bekerja di kedai kopi hingga larut malam. Rasa malu sempat merayap, menghantuiku setiap kali bertemu teman lama yang kini sudah sukses di bidangnya.
Pundakku terasa berat, menopang beban yang seharusnya belum menjadi milikku. Ada malam-malam di mana aku hanya bisa duduk di sudut kamar yang gelap, bertanya pada langit mengapa takdir seolah sengaja merenggut masa mudaku. Kelelahan fisik itu terasa minor dibandingkan kelelahan mental yang terus memaksa batinku untuk menyerah.
Namun, di tengah titik terendah itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Aku mulai melihat nilai dari setiap uang receh yang kudapatkan dengan susah payah. Aku belajar berkomunikasi dengan empati, bukan hanya dengan logika buku teks, terutama saat harus menenangkan Ibu yang cemas.
Aku sadar, inilah yang orang sebut sebagai Novel kehidupan, sebuah naskah yang tak bisa diedit atau diulang, hanya bisa dijalani dengan sepenuh hati. Setiap kesakitan, setiap pengorbanan, adalah babak penting yang membentuk karakterku, mengikis ego, dan menumbuhkan rasa syukur yang mendalam.
Kini, setahun setelah badai itu, aku masih bekerja keras, namun hatiku jauh lebih tenang. Aku tidak lagi mencari kesuksesan yang diukur dari jabatan, melainkan dari kemampuan untuk tetap berdiri teguh saat semua hal di sekitarku runtuh. Aku telah menemukan kompas yang sesungguhnya, yang tidak menunjuk ke arah impian, tetapi ke arah tanggung jawab.
Luka-luka di telapak tangan dan kantung mata yang menghitam itu adalah medali kehormatan yang tak terlihat. Mereka adalah pengingat bahwa kedewasaan bukanlah usia yang tercantum di KTP, melainkan keputusan untuk memilih pengorbanan di atas kenyamanan diri sendiri.
Maka, jika suatu saat nanti badai lain datang, aku tidak akan lari. Aku akan berdiri tegak, karena aku tahu, aku telah lulus dari sekolah kehidupan yang paling keras. Tapi apakah pelajaran ini benar-benar telah usai, ataukah ini baru permulaan dari sebuah babak yang jauh lebih menantang?
.png)
.png)
