Dulu, hidupku adalah tentang senja di kafe mahal dan obrolan ringan yang tak berarti. Sekarang, tanganku berbau ampas kopi robusta yang pekat, dan jam kerjaku dimulai jauh sebelum matahari terbit. Perubahan itu datang secepat badai, meninggalkan kekosongan yang membingungkan di kursi yang biasa diduduki Ayah.
Warung kopi kecil di pinggir jalan ini adalah satu-satunya warisan yang harus kupertahankan dengan sekuat tenaga. Ketika Ayah mendadak harus beristirahat total, beban operasional, tagihan yang menumpuk, dan kewajiban untuk tersenyum pada pelanggan lama jatuh sepenuhnya ke pundakku. Aku, yang bahkan tak tahu cara membedakan Arabika dan Liberika, kini harus menjadi nahkoda.
Ada malam-malam di mana aku hanya bisa menangis diam-diam di balik meja kasir yang lengket, merasa tak sanggup memikul tanggung jawab sebesar ini. Pesanan sering salah, hitungan rugi lebih besar dari untung, dan beberapa pelanggan setia mulai menghilang karena kualitas yang menurun drastis. Kesombonganku sebagai anak muda yang dimanjakan runtuh, digantikan oleh rasa takut yang dingin dan mematikan.
Pak Tua, peracik kopi andalan Ayah sejak puluhan tahun lalu, mendekatiku suatu pagi dengan tatapan penuh pengertian. Ia tidak memberiku simpati kosong, melainkan cangkir kopi pahit tanpa gula dan pelajaran tentang ketekunan. "Kopi yang baik butuh proses pemanggangan yang tepat, Nak. Sama seperti dirimu yang sedang dibentuk oleh api kehidupan," katanya pelan.
Aku mulai mencatat setiap resep, menghitung detail stok hingga ke biji terakhir, dan yang paling sulit, mendengarkan keluhan pelanggan dengan hati yang benar-benar terbuka. Perlahan, aku menemukan ritme baru; ritme yang tidak lagi didikte oleh keinginan pribadi, melainkan oleh kebutuhan dan dedikasi pada warisan keluarga.
Setiap tetes keringat yang jatuh di lantai kayu warung ini adalah halaman baru yang kutulis dengan penuh kepastian. Aku menyadari, apa yang kualami ini adalah bagian terpenting dari Novel kehidupan yang harus kubaca dan kuciptakan sendiri. Babak ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan ditemukan dalam kemewahan, melainkan dalam kemampuan untuk bangkit kembali setelah terjatuh paling dalam.
Warung Kopi Senja mulai ramai kembali, bukan karena promosi besar-besaran, tapi karena konsistensi rasa dan sentuhan pribadiku yang tulus. Aku tidak lagi melihat pekerjaan ini sebagai penjara yang membatasi, melainkan sebagai panggung di mana aku bisa membuktikan bahwa aku mampu berdiri tegak tanpa bantuan siapa pun.
Kedewasaan ternyata bukan sekadar penambahan angka usia, melainkan penerimaan pahit bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana yang kita susun rapi. Ini adalah keberanian untuk memikul beban yang tadinya terasa terlalu berat, dan menemukan bahwa di bawah beban itu, terdapat otot-otot baru yang jauh lebih kuat.
Malam itu, setelah menutup warung, aku duduk di kursi Ayah yang kosong, memandang cangkir keramik yang sudah dicuci bersih. Aku telah kehilangan masa mudaku yang riang, tapi sebagai gantinya, aku mendapatkan diriku yang sesungguhnya. Namun, ketika aku meraih buku catatan resep Ayah, terselip surat lama yang berisi rahasia besar tentang resep rahasia keluarga, dan sebuah nama yang tak pernah kudengar: "Sinta, penjaga rasa yang hilang." Siapakah Sinta, dan rahasia apa lagi yang disembunyikan Ayah?
.png)
.png)
