JABARONLINE.COM - Dukuh Malasan yang terletak di Desa Ketitang, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, menyimpan sebuah ironi yang menarik untuk disimak. Meskipun secara fonetik namanya berkonotasi dengan sifat negatif, kondisi nyata masyarakat di sana justru menunjukkan produktivitas yang sangat tinggi.
Wilayah ini berada di lokasi yang cukup strategis, tepat di jantung perekonomian Kecamatan Juwiring dan berdekatan dengan Pasar Tanjung. Infrastruktur jalan di pemukiman ini telah beraspal mulus, dihiasi dengan deretan rumah permanen yang megah serta bangunan joglo kuno yang terawat dengan baik.
Suasana tenang tampak menyelimuti dukuh tersebut pada siang hari karena mayoritas penduduknya sedang sibuk beraktivitas di luar rumah. Dilansir dari detikJateng, para wanita yang berada di rumah pun tetap produktif dengan menjalankan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pembuatan sprei.
"Memang unik dan sering memicu pertanyaan orang karena ada kata Malasan yang identik dengan malas, padahal sejak dulu wilayah ini dikenal sebagai kampung dengan jumlah pegawai negeri terbanyak," ungkap Tri Hartono, Plt Kadus I Desa Ketitang.
Struktur sosial di Dukuh Malasan terbentuk secara alami melalui pembagian wilayah rukun tetangga yang mencerminkan latar belakang profesi warganya. Di wilayah RT 6, kemapanan ekonomi terlihat jelas dari bangunan rumah yang besar milik para pensiunan pejabat publik.
"Warga di RT 6 rata-rata adalah pensiunan pegawai negeri, mulai dari mantan kepala sekolah hingga anggota DPRD, sementara di RT 7 didominasi petani, dan di RT 8 tempat tinggal saya juga mayoritas adalah PNS," kata Tri Hartono.
Keberagaman profesi di kampung ini ternyata tidak hanya sebatas pada aparatur sipil negara saja. Masyarakat setempat memiliki latar belakang pekerjaan yang sangat luas, mulai dari sektor transportasi udara hingga tenaga pendidik di perguruan tinggi.
"Ada warga yang berprofesi sebagai pilot dan masih aktif berdinas hingga sekarang, ada juga yang sudah pensiun dengan jabatan Lektor, serta beberapa dosen lainnya," lanjut Tri Hartono.
Berdasarkan data administrasi desa, Dukuh Malasan sudah eksis jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa konsentrasi profesi sebagai abdi negara di wilayah ini memang sudah menjadi ciri khas sejak lama.
