JABARONLINE.COM - Shalat merupakan tiang agama yang menjadi barometer utama seluruh amal perbuatan seorang hamba di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia bukan sekadar rutinitas fisik yang menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah pertemuan sakral antara makhluk dengan Khaliknya. Shalat yang dikerjakan dengan sempurna akan menjadi cahaya di dunia dan penyelamat di akhirat, namun shalat yang hanya bersifat formalitas lahiriah tanpa melibatkan kehadiran hati (hudhurul qalb) akan kehilangan esensinya sebagai sarana mi’rajul mu’minin.

Keberuntungan seorang mukmin sangat bergantung pada kualitas shalatnya, terutama pada aspek kekhusyukan yang ia hadirkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan khusyu sebagai kriteria pertama bagi mereka yang akan meraih kemenangan abadi. Tanpa kekhusyukan, ibadah shalat laksana jasad yang tidak memiliki ruh; ia tampak ada secara fisik, namun tidak memberikan dampak transformatif bagi jiwa pelakunya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS. Al-Mu'minun: 1-5)

Untuk mencapai derajat khusyu tersebut, seorang Muslim harus memahami hakikat Ihsan dalam beribadah. Ihsan adalah kesadaran transendental bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik kita, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam dada. Ketika kesadaran ini muncul, maka secara otomatis seluruh anggota tubuh akan bersikap santun dan hati akan merasa malu untuk berpaling kepada selain Allah saat sedang berkomunikasi dengan-Nya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: صَدَقْتَ.

Terjemahan: "Lelaki itu (Jibril) berkata: 'Beritahukan kepadaku tentang Ihsan.' Beliau (Rasulullah) menjawab: 'Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.' Lelaki itu berkata: 'Engkau benar.'" (HR. Muslim, dalam potongan Hadits Jibril yang panjang)

Namun, realitanya banyak di antara kita yang merasa bahwa khusyu adalah perkara yang sangat berat dan sulit dicapai. Memang benar, godaan setan dalam shalat sangatlah kuat untuk memalingkan perhatian manusia. Akan tetapi, bagi jiwa-jiwa yang rindu akan perjumpaan dengan Tuhannya dan yakin akan adanya hari pembalasan, beban tersebut akan terasa ringan karena cinta yang mendalam kepada Allah Ta'ala telah mendominasi hatinya.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Terjemahan: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Kita juga harus waspada, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memperingatkan bahwa ilmu yang pertama kali akan diangkat dari umat ini adalah kekhusyukan dalam shalat. Fenomena shalat yang tergesa-gesa tanpa thuma'ninah dan tanpa kehadiran hati adalah tanda-tanda awal hilangnya keberkahan dalam ibadah. Oleh karena itu, kita harus terus memohon perlindungan kepada Allah agar tidak termasuk golongan orang yang lalai dalam shalatnya.

أَوَّلُ شَيْءٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْخُشُوعُ، حَتَّى لَا تَرَى فِيهَا خَاشِعًا

Terjemahan: "Sesuatu yang pertama kali diangkat (hilang) dari umat ini adalah kekhusyukan, sehingga kamu tidak akan melihat lagi orang yang khusyu'." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jamul Kabir)