JABARONLINE.COM - Pemerintah Kota Semarang bergerak cepat memberikan pertolongan medis kepada seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T yang menjadi korban kekerasan di Tambakmulyo. Korban yang menderita luka bakar akibat ulah pamannya sendiri tersebut dievakuasi pada Rabu, 22 April 2026.
Langkah evakuasi ini dipicu oleh kondisi keluarga korban yang sempat memulangkan T dari rumah sakit swasta karena terkendala biaya pengobatan. Pemerintah memastikan bahwa penanganan medis kini menjadi prioritas utama agar kondisi kesehatan korban tidak semakin memburuk.
Dilansir dari Detikcom, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng segera menginstruksikan jajaran Camat Semarang Utara untuk melakukan koordinasi lintas instansi. Sinergi ini melibatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Sosial, serta RSUD K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN).
"Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2," ujar Siwi Wahyuningsih selaku Camat Semarang Utara.
Intervensi dari pemerintah daerah sangat diperlukan karena layanan kesehatan korban sebelumnya tidak dapat ditanggung oleh jaminan kesehatan nasional di fasilitas kesehatan swasta. Hal ini membuat keluarga sempat kebingungan mencari bantuan medis yang memadai bagi siswi malang tersebut.
"Karena tidak bisa di-cover oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke rumah sakit swasta. Nah, setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan DP3A, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif," jelas Siwi Wahyuningsih.
Berdasarkan laporan tim medis, korban mengalami luka bakar yang cukup serius pada beberapa bagian tubuhnya, termasuk area lengan kanan hingga punggung. Kerusakan jaringan yang dialami korban dilaporkan mencapai persentase yang cukup mengkhawatirkan bagi anak seusianya.
"Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus," kata Siwi Wahyuningsih dalam keterangan tertulisnya.
Selain penanganan luka fisik di RSWN, DP3A juga diterjunkan untuk memberikan pendampingan psikologis guna memantau perkembangan trauma yang dialami korban. Upaya ini dilakukan agar kesehatan mental siswi tersebut tetap terjaga pasca-kejadian tragis yang menimpanya.
