Dulu, duniaku hanyalah kanvas dan warna; sebuah idealisme murni tentang seni yang tak tersentuh oleh debu kehidupan nyata. Aku membayangkan masa depanku di galeri kota besar, bukan di antara pepohonan rimbun yang berlumur tanah dan getah. Namun, sebuah panggilan mendadak mengubah segalanya, menarikku dari menara gading mimpi kembali ke realitas desa yang keras.

Ayah sakit. Kebun kopi yang menjadi satu-satunya sandaran keluarga terancam bangkrut karena salah urus dan harga jual yang terus dipermainkan tengkulak. Tiba-tiba, beban yang seharusnya dipikul oleh pundak kokoh orang dewasa jatuh ke pundakku yang masih rapuh.

Aku membenci bau kopi mentah yang bercampur dengan bau tanah basah. Aku membenci angka-angka kerugian yang selalu lebih besar daripada hasil panen, dan aku membenci diriku sendiri karena ketidakmampuan untuk memperbaiki keadaan. Ada malam-malam di mana aku hanya bisa menangis di antara karung-karung goni, merasa seperti pecundang yang gagal menyelamatkan warisan keluarga.

Rasa frustrasi itu perlahan mengikis idealisme kekanak-kanakan, menggantinya dengan keharusan untuk bertahan. Aku sadar, kedewasaan bukanlah soal usia yang tercantum di KTP, melainkan kemampuan untuk memanggul tanggung jawab yang tidak pernah kita minta. Aku harus belajar berbicara dengan suara yang tegas di hadapan para buruh dan bersikap cerdik di hadapan para pedagang yang licik.

Aku mulai membaca buku-buku pertanian, belajar tentang fermentasi biji, dan mencari tahu jalur distribusi yang lebih adil. Setiap kegagalan kecil kini kuanggap sebagai pelajaran mahal yang harus segera kuaplikasikan, bukan sebagai alasan untuk menyerah. Perlahan, aku mulai menemukan ritme baru antara pahitnya biji kopi dan kerasnya keputusan bisnis.

Saat itulah aku menyadari, bahwa apa yang kualami ini adalah skenario paling mendalam dari sebuah Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, tanpa editor, tanpa jeda. Setiap konflik dengan tengkulak, setiap ancaman gagal panen, adalah babak penting yang membentuk karakternya.

Kebun itu tidak hanya memberiku hasil panen; ia memberiku pelajaran tentang akar, tentang bagaimana sesuatu yang berharga memerlukan waktu lama untuk tumbuh dan ketahanan luar biasa untuk bertahan dari badai. Aku mulai menghargai setiap tetes keringat yang jatuh di tanah itu, keringat yang kini menjadi milikku juga.

Ketika biji kopi terbaik dari kebun kami akhirnya berhasil menembus pasar yang lebih baik, senyum Ayah adalah hadiah yang jauh lebih berharga daripada semua uang yang kami dapatkan. Aku tidak lagi melihat lumpur sebagai kotoran, melainkan sebagai fondasi tempat kakiku berpijak dengan kuat.

Mimpi menjadi pelukis masih ada, tetapi kini ia memiliki kedalaman baru, diwarnai oleh realitas dan perjuangan. Kedewasaan memang datang tanpa diundang, seringkali melalui jalur yang paling menyakitkan, tetapi ia meninggalkan kita dengan kekuatan baja yang tak akan pernah bisa dipatahkan lagi.