JABARONLINE.COM - Menjaga ketenangan jiwa, bahkan di tengah hiruk pikuk kesibukan siang hari, dapat dicapai melalui amalan spiritual yang sederhana namun mendalam, yaitu membaca doa dan berdzikir. Amalan ini merupakan wujud kesadaran seorang Muslim terhadap kehadiran Allah SWT di setiap lini kehidupannya.
Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu seperti salat fardu, melainkan dapat dilakukan secara fleksibel sepanjang hari. Dzikir dan doa termasuk bentuk ibadah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan kapan saja, baik saat memulai hari, di tengah kesibukan, maupun menjelang malam tiba.
Dikutip dari Cahaya, ditegaskan bahwa dzikir dan doa memiliki sifat yang fleksibel dan tidak terikat oleh ketentuan waktu ibadah lainnya. Prinsip kebebasan waktu ini sejalan dengan penjelasan ulama besar mengenai pentingnya mengingat Allah secara berkelanjutan.
Imam An-Nawawi, dalam kitabnya Al-Adzkar, menekankan bahwa mengingat Allah sangat dianjurkan untuk dilakukan sepanjang waktu, termasuk di siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan spiritual dapat dijaga tanpa harus menghentikan aktivitas duniawi sepenuhnya.
Urgensi menjadikan dzikir sebagai bagian dari aktivitas harian diperkuat oleh sebuah hadis sahih mengenai perbandingan antara orang yang berdzikir dan yang tidak. "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati," ujar hadis riwayat Sahih Bukhari.
Hadis tersebut menggarisbawahi bahwa dzikir bukan sekadar pelengkap, melainkan esensial untuk 'menghidupkan hati' seorang Muslim agar tidak mati secara spiritual di tengah kesibukan dunia. Dzikir singkat dapat menjadi jeda menenangkan tanpa menyita banyak waktu.
Beberapa bacaan singkat yang sangat dianjurkan untuk diamalkan secara konsisten termasuk tasbih, tahlil, tahmid, dan istighfar. Bacaan tasbih yang dianjurkan adalah "Subhanallahi wa bihamdihi," yang jika dibaca 100 kali memiliki keutamaan besar dalam penghapusan dosa.
Selain tasbih, umat Islam juga dianjurkan mengamalkan tahlil dan tahmid yang lafalnya adalah "Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr." Amalan ini mengandung pengakuan keesaan Allah, kepemilikan-Nya atas kerajaan, serta pujian atas kekuasaan-Nya.
Mengenai istighfar, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa amalan memohon ampunan ini memiliki korelasi langsung dengan datangnya keberkahan dalam kehidupan seseorang. Istighfar juga merupakan pintu utama untuk mendapatkan pengampunan atas segala kesalahan yang telah diperbuat.
