Dunia yang kukenal runtuh bukan karena gempa, melainkan karena selembar surat tagihan yang tak mampu kubayar. Saat itu, aku baru saja mewarisi galeri seni milik ayah, merasa percaya diri bahwa warisan itu adalah jaminan kebahagiaan abadi. Aku lupa bahwa warisan terbesar bukanlah harta, melainkan kebijaksanaan dalam mengelolanya.
Kegagalan itu terasa seperti tamparan dingin. Aku terlalu naif, terlalu mudah percaya pada janji manis rekan bisnis yang ternyata hanya memanfaatkan celah ketiadaan ayah. Dalam hitungan minggu, aku kehilangan atap, kehilangan nama baik, dan yang paling menyakitkan, kehilangan rasa hormat pada diriku sendiri.
Malam-malam setelah itu kuhabiskan dalam keheningan yang menyesakkan, ditemani aroma debu dan kenangan yang memudar. Aku bertanya-tanya, apakah ini akhir dari segalanya? Rasa malu membelenggu, membuatku enggan bertemu siapa pun, bahkan mereka yang tulus ingin membantu.
Titik balik itu datang saat aku menemukan sebuah buku harian lusuh milik Ibu. Di dalamnya, ia menulis tentang bagaimana kesulitan adalah pupuk bagi jiwa, bukan racun. Kalimat sederhana itu membangunkanku dari tidur panjang keputusasaan; aku harus bangkit, bukan untuk mendapatkan kembali yang hilang, melainkan untuk membangun yang baru.
Aku memutuskan meninggalkan kota lama, membawa ransel berisi beberapa potong baju dan mimpi yang masih rapuh. Di kota baru, aku mulai dari nol, bekerja serabutan sebagai kurir paruh waktu dan pelayan kedai kopi, pekerjaan yang jauh dari gemerlap dunia seni yang pernah kukenal.
Di sanalah aku belajar arti sejati kerja keras dan kerendahan hati. Setiap tetes keringat yang jatuh mengajarkanku nilai sepeser uang. Pengalaman ini adalah babak paling jujur dan keras dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, di mana setiap kegagalan adalah koreksi, bukan vonis mati.
Perlahan, pecahan diriku yang patah mulai menyatu, namun kini dengan lapisan baja baru. Aku tidak lagi takut pada risiko; aku justru menghargai proses pembelajaran yang menyakitkan. Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai puncak, melainkan tentang seberapa teguh kita berdiri setelah terjatuh ke dasar.
Aku menyadari, jika dulu aku tidak kehilangan segalanya, aku mungkin tidak akan pernah menemukan potensi sejati dalam diriku yang ternyata jauh lebih berharga daripada galeri mana pun. Kehilangan itu memberiku hadiah tak ternilai: kemampuan untuk melihat dunia tanpa ilusi.
Kini, meskipun jalan yang kutempuh masih panjang dan berliku, aku berjalan dengan keyakinan penuh. Aku tidak tahu di mana ujung dari cerita ini, tapi aku tahu satu hal: Aksa yang dulu rapuh sudah mati. Yang tersisa adalah Aksa yang siap menghadapi badai, dan ia tidak akan pernah membiarkan masa lalunya mendefinisikan masa depannya.
.png)
.png)
