JABARONLINE.COM - Seorang anak berusia 12 tahun dengan inisial DK dari Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama 25 hari akibat gigitan ular weling. Peristiwa nahas ini terjadi setelah korban dipatuk ular ketika sedang terlelap di lantai rumahnya.

Peristiwa tragis ini bermula pada hari Minggu, 29 Maret, ketika korban tidak menyadari keberadaan ular tersebut. Korban sempat mengira reptil berbisa itu adalah mainan sebelum akhirnya tangannya tergigit oleh ular weling yang memiliki panjang sekitar 1,5 meter.

Ular yang menyerang bocah tersebut dilaporkan ditemukan warga dalam kondisi sudah mati tak lama setelah kejadian. Warga setempat berhasil membunuh ular tersebut setelah insiden gigitan terjadi di Kampung Borolong.

Ayah korban, Andis Kuswara, membenarkan tindakan warga yang segera menangkap dan membunuh ular tersebut setelah putranya dipatuk. "Sudah ditangkap warga, dipukul sampai mati," ungkap Andis Kuswara mengenai nasib ular weling tersebut.

Keluarga sempat merasakan harapan ketika kondisi DK menunjukkan tren membaik pada awal minggu kedua perawatan. Kondisi pasien dilaporkan stabil pada hari Senin (20/4) dan Selasa (21/4), bahkan sempat meminta untuk dipulangkan ke Tasikmalaya.

Namun, kondisi kesehatan bocah tersebut memburuk secara drastis pada hari Rabu pagi, yang berujung pada meninggalnya korban di sebuah rumah sakit di Bandung. "Rabu pagi saya dikabari kondisi anak saya menurun dan akhirnya meninggal," jelas Andis Kuswara.

Sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan formal, ibu korban, Siti Hindun, menceritakan bahwa mereka sempat mencari pertolongan dari praktisi pengobatan alternatif setempat. "Dibawa dulu ke orang yang bisa, katanya dibawa ke rumah sakit saja. Langsung ke sini RSUD KHZ Musthafa," tutur Siti Hindun.

Pihak RSUD KHZ Musthafa menyatakan telah memberikan penanganan maksimal, termasuk mendatangkan bantuan ahli toksin karena kebutuhan antibisa yang sangat tinggi. Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr Eli Hendalia, mengonfirmasi upaya maksimal tim medis.

"Kami rumah sakit terus berupaya selamatkan pasien. Kami bolak balik juga ke Bandung untuk anti venomnya. Malahan karena ini kasusnya terbilang jarang dari ahli toksin juga datang. Ini pasien sudah habiskan 50 vial anti venom," tegas dr Eli Hendalia.