Sebelum badai itu datang, hidupku terasa seperti sketsa pensil yang jelas, terencana dengan rapi dan tanpa noda. Aku adalah gadis yang hanya peduli pada jadwal kuliah, novel terbaru, dan rencana perjalanan ke luar kota yang sudah kutabung sejak lama. Kedewasaan bagiku hanyalah status yang akan datang seiring bertambahnya usia, bukan sebuah medan perang yang harus kutempuh.
Semua berubah saat sebuah surat diagnosa mengubah peta rumah kami menjadi ruang tunggu rumah sakit yang dingin. Tiba-tiba, tumpukan buku di meja belajarku digantikan oleh tumpukan faktur dan tagihan usaha kecil milik Ayah. Aku harus menjadi nahkoda kapal keluarga yang sedang oleng, padahal aku bahkan belum pernah memegang kemudi.
Malam-malamku yang dulu diisi obrolan ringan bersama teman, kini dihabiskan untuk menghitung untung rugi dan menghadapi penagih utang yang tak kenal kompromi. Rasa takut itu nyata, seringkali mencekikku hingga aku harus bersembunyi di kamar mandi hanya untuk menangis tanpa suara. Aku merindukan diriku yang dulu, yang bebas dari beban seberat ini.
Setiap pagi, aku memaksakan senyum di depan Ibu, berpura-pura bahwa semua akan baik-baik saja, seolah-olah aku memiliki cadangan kekuatan yang tak terbatas. Aku harus belajar bicara tegas, menawar harga bahan baku, bahkan berdebat dengan para pesaing yang mencoba mengambil kesempatan dari kelemahan kami. Aku tahu, impianku untuk melanjutkan studi di luar pulau harus kutangguhkan, mungkin untuk waktu yang sangat lama.
Pelajaran terberat bukanlah tentang angka-angka di pembukuan, melainkan tentang pengkhianatan dan ketulusan yang datang dari orang-orang terdekat. Aku melihat topeng-topeng jatuh, menyaksikan bagaimana kesempitan finansial mampu mengubah wajah seseorang menjadi asing dan penuh perhitungan. Ini adalah proses pendewasaan yang brutal, dicetak bukan oleh teori, melainkan oleh pengalaman pahit yang menusuk.
Namun, di tengah semua kepahitan itu, aku mulai menemukan inti diriku yang baru, yang jauh lebih tangguh dan berani. Aku menyadari bahwa setiap kesulitan yang kualami adalah tinta yang menuliskan kisahku sendiri. Inilah esensi dari Novel kehidupan yang sesungguhnya; bukan tentang akhir yang bahagia, melainkan tentang bagaimana kita bertahan di setiap babak yang menyakitkan.
Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah menangis, tetapi mampu menghapus air mata dan tetap berdiri tegak demi orang-orang yang bergantung padaku. Kebebasan sejati bukanlah melakukan apa yang kita mau, melainkan memiliki kekuatan untuk melakukan apa yang harus dilakukan.
Saat aku menatap cermin, aku tidak lagi melihat Risa yang cengeng dan manja, melainkan seorang wanita muda dengan sorot mata yang tajam, penuh perhitungan, dan sedikit lelah. Garis-garis kekhawatiran yang samar di sudut mataku adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah berlayar.
Kini, meskipun badai belum sepenuhnya berlalu dan tanggung jawab masih membentang luas di hadapanku, aku tidak lagi takut. Aku sudah tahu rasa sakitnya, dan aku sudah tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Pertanyaannya, setelah semua pengorbanan ini, akankah aku masih menemukan jalan kembali menuju mimpi yang pernah kutangguhkan, atau akankah jalan baru ini menjadi takdirku selamanya?
.png)
.png)
