JABARONLINE.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan untuk mengumumkan data resmi mengenai perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode April 2026 pada hari Senin, 4 Mei 2026. Pengumuman ini menjadi sorotan karena adanya proyeksi kenaikan inflasi secara bulanan yang diperkirakan terjadi pada periode tersebut.

Konsensus pasar yang berhasil dihimpun oleh CNBC Indonesia dari 13 institusi menunjukkan proyeksi inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Indonesia pada April 2026 berada di angka 0,43%. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) diprediksi mencapai median 2,72%.

Adapun inflasi inti, yang cenderung lebih stabil karena tidak memasukkan fluktuasi harga energi dan pangan segar, diperkirakan akan berada di level 2,40% secara tahunan pada April 2026. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya, Maret 2026.

Sebagai pembanding data, pada Maret 2026, Indonesia mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,41% (mtm), dengan inflasi tahunan tercatat 3,48% (yoy) dan inflasi inti berada di angka 2,63% (yoy). Perbedaan proyeksi ini menunjukkan adanya pergeseran faktor pendorong inflasi antara kedua bulan tersebut.

Kenaikan inflasi bulanan April 2026 ini terutama didorong oleh beberapa komponen utama, termasuk lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Selain itu, harga komoditas pangan juga turut berkontribusi signifikan terhadap kenaikan ini.

"Kenaikan inflasi bulanan disumbang beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, gandum, kedelai, dan cabai merah," jelas Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite juga menjadi salah satu faktor pendorong utama.

Dampak kenaikan harga BBM non-subsidi ini cukup signifikan, di mana pemerintah telah menaikkan harga beberapa jenis BBM tersebut per 18 April 2026. Contohnya, Pertamax Turbo melonjak 48,1% dari Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter, dan Dexlite naik 66,2% menjadi Rp23.600 per liter.

"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan energi diperkirakan akan memberikan dampak kenaikan sekitar 0,04 poin persentase terhadap inflasi bulanan," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengenai dampak spesifik dari kenaikan energi tersebut.

Di sisi lain, tekanan inflasi sedikit tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan tertentu. "Andry menambahkan turunnya harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam, dan telur membuat inflasi sedikit tertahan," papar Andry Asmoro. Data PIHPSN menunjukkan rata-rata harga beras naik signifikan menjadi Rp 15.929/kg, sementara harga cabai rawit merah justru jatuh 13,4% menjadi Rp 74.218 per kg.