Jabaronline,com_ Di banyak ruang kelas, puisi masih diperlakukan sebagai teks yang harus dibedah: dicari maknanya, diidentifikasi majasnya, lalu disimpulkan temanya. Mahasiswa dilatih untuk memahami, tetapi jarang diberi ruang untuk mengalami atau menciptakan. Akibatnya, puisi terasa jauh—rapi secara akademik, tetapi kehilangan daya hidupnya.

Pertanyaannya kini menjadi semakin relevan: untuk apa kajian puisi jika hanya berhenti pada analisis teks, sementara dunia kerja menuntut kemampuan mencipta?

Pendekatan klasik seperti New Criticism telah lama menjadi fondasi dalam kajian sastra. Ia mengajarkan ketelitian membaca, kedalaman tafsir, dan kepekaan terhadap bahasa. Namun, ketika pendekatan ini berdiri sendiri tanpa pengembangan lebih lanjut, muncul kesenjangan antara pembelajaran sastra dan kebutuhan dunia nyata.

Di dunia kerja saat ini, kemampuan memahami tidak lagi cukup. Industri membutuhkan individu yang mampu mengolah, mencipta, dan mengomunikasikan gagasan dalam berbagai bentuk. Di sinilah pembelajaran puisi perlu bergerak dari sekadar interpretasi menuju produksi kreatif.


Pendekatan Project-Based Learning yang dipadukan dengan konsep Transmediation (alih wahana) menawarkan arah baru. Dalam model ini, puisi tidak berhenti sebagai teks, melainkan menjadi titik awal bagi penciptaan karya. Mahasiswa dapat mentransformasikan puisi menjadi video, musik, pertunjukan, atau konten digital yang relevan dengan budaya masa kini.

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada cara belajar, tetapi juga pada kesiapan menghadapi dunia kerja. Mahasiswa tidak lagi sekadar menjadi penafsir makna, tetapi berkembang menjadi produsen karya. Mereka belajar bekerja dalam tim, mengelola proyek, membangun narasi visual, dan menyampaikan pesan secara kreatif—keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam ekosistem Creative Industry.

Namun, inovasi ini tidak tanpa tantangan. Saya akan mengingaktan diri sendiriĀ  bahwa pembelajaran puisi tidak boleh kehilangan kedalamannya. Ada risiko ketika puisi terlalu cepat dialihwahanakan menjadi konten visual atau audio, makna estetiknya justru menjadi dangkal.

Karena itu, penting untuk menegaskan bahwa kajian teks tetap merupakan fondasi utama. Mahasiswa perlu melakukan pembacaan mendalam sebelum melakukan transformasi. Alih wahana bukan sekadar mengubah bentuk, tetapi memindahkan makna, rasa, dan imaji ke medium lain secara sadar dan bertanggung jawab.

Selain itu, proses kreatif harus disertai refleksi. Dalam pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga perlu memahami dan menjelaskan proses di baliknya. Refleksi inilah yang menjaga keseimbangan antara kreativitas dan kedalaman berpikir.