
Jabaronline.com— Kreativitas dan kedalaman makna menjadi napas utama dalam kolaborasi S. Mubarock bersama Rasuara yang akan hadir dalam tajuk Bincang Karya & Intimate Performance. Acara ini dijadwalkan berlangsung di Aula FKIP Universitas Pakuan, menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar musikal, tetapi juga reflektif dan personal.
S. Mubarock dikenal sebagai sosok multidisipliner: penulis, akademisi, sekaligus kreator musikal yang menjadikan karya sebagai medium perenungan. Bersama Rasuara, ia menghadirkan format pertunjukan yang lebih dekat dengan audiens—intim, jujur, dan sarat cerita. Kolaborasi ini merupakan pengembangan dari konsep Senandung Mubarock, yang kini dikemas lebih dialogis melalui sesi bincang karya.
Dalam penampilannya, S. Mubarock tidak hanya membawakan lagu, tetapi juga menghadirkan narasi di balik proses kreatif. Lagu-lagu seperti Aku Benci Hari Ini, Kirim Sebaris Doa, hingga Ketimpangan di Lampu Merah menjadi potret pengalaman hidup yang diolah menjadi refleksi sosial dan personal. Setiap karya menjadi ruang perjumpaan antara emosi, realitas, dan harapan.
Sementara itu, Rasuara turut memperkuat nuansa pertunjukan melalui karya-karya mereka yang emosional dan dekat dengan realitas anak muda. Lagu seperti Patah dan Berhenti di Kamu menjadi representasi kisah kehilangan, penerimaan, dan perjalanan perasaan yang tak selalu mudah diungkapkan. Dengan pendekatan musikal yang sederhana namun menyentuh, Rasuara menghadirkan ruang resonansi yang kuat bagi para penikmatnya.
Tak hanya pertunjukan, acara ini juga menghadirkan sesi diskusi bersama pemantik dari kalangan akademisi dan pegiat sastra. Hal ini mempertegas posisi S. Mubarock sebagai seniman yang tidak hanya berkarya, tetapi juga mengajak audiens untuk berpikir, merasakan, dan memahami.
Dengan konsep intim dan jumlah peserta terbatas, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang apresiasi yang lebih bermakna. Sebuah pertemuan antara karya dan rasa, antara pencipta dan penikmat, dalam suasana yang hangat dan reflektif.
“Bukan sekadar lagu, ini potongan hidup yang dinyanyikan,” menjadi pesan kuat yang menggambarkan esensi kolaborasi ini—bahwa setiap nada adalah cerita, dan setiap cerita layak untuk didengar.
