JABARONLINE.COM - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momentum ini bukan sekadar seremonial tahunan yang diisi dengan upacara bendera di sekolah-sekolah atau instansi pemerintahan, melainkan sebuah pengingat akan perjalanan panjang nan terjal bangsa ini dalam meraih hak atas pengetahuan.
Penetapan tanggal 2 Mei sendiri tidaklah sembarangan; ia merupakan hari kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Beliau adalah sosok visioner yang memancangkan tonggak pendidikan bagi kaum pribumi di tengah diskriminasi kolonial Belanda yang mencekik.
Melalui artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam sejarah, pergolakan politik, hingga filosofi yang melatari lahirnya Hari Pendidikan Nasional sebagai simbol kebangkitan intelektual bangsa.
Untuk memahami mengapa 2 Mei begitu sakral, kita harus kembali ke masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada masa itu, akses pendidikan di Hindia Belanda sangatlah terbatas dan bersifat diskriminatif. Pendidikan hanya diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Belanda, orang Eropa lainnya, serta segelintir kaum bangsawan atau priyayi yang bekerja untuk administrasi kolonial.
Bagi rakyat jelata atau kaum "kromo", pendidikan dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas kekuasaan Belanda karena pengetahuan dapat memicu kesadaran akan kemerdekaan. Ki Hadjar Dewantara, yang lahir dari keluarga bangsawan Pakualaman di Yogyakarta pada 2 Mei 1889, menolak untuk sekadar menikmati privilesenya. Ia justru menggunakan latar belakang pendidikannya di STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) untuk menjadi jurnalis yang kritis dan vokal dalam menyuarakan ketidakadilan sosial.
Puncak dari sikap kritis Soewardi Soerjaningrat terjadi pada tahun 1913. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda berencana merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis. Ironisnya, biaya perayaan tersebut dipungut dari rakyat jajahan di Hindia Belanda.
Soewardi kemudian menulis sebuah artikel satir yang sangat fenomenal berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda). Dalam tulisan tersebut, ia menyindir betapa tidak tahu malunya Belanda merayakan kemerdekaan di tanah yang mereka jajah dengan menggunakan uang rakyat jajahan. Akibat tulisan yang dianggap menghasut tersebut, Soewardi bersama dua rekannya dalam "Tiga Serangkai"—Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)—dijatuhi hukuman pengasingan ke Belanda.
Masa pengasingan di Belanda justru menjadi berkah tersendiri bagi perkembangan pemikiran pendidikan Soewardi. Alih-alih patah semangat, ia memanfaatkan waktu tersebut untuk mendalami ilmu pendidikan dan meraih Europeesche Akte, sebuah ijazah guru yang bergengsi.
Di sana, ia terpengaruh oleh pemikiran tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti Maria Montessori dari Italia dan Friedrich Froebel dari Jerman. Ia mulai merumuskan konsep pendidikan yang memadukan nilai-nilai kemanusiaan universal dengan kearifan lokal Indonesia. Pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya metode pendidikan yang memanusiakan manusia, yang kelak ia terapkan sekembalinya ke tanah air.
