JABARONLINE.COM - Sebuah video yang sempat menghebohkan jagat maya memperlihatkan interaksi yang tampak seperti perkelahian antara seorang murid dan seorang guru perempuan di dalam ruang kelas. Adegan tersebut disaksikan oleh sejumlah siswa lainnya, menimbulkan reaksi keras dari warganet.

Peristiwa yang dikabarkan terjadi di Kota Langsa, Aceh, ini dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial. Reaksi negatif dan kecaman datang dari pengguna internet yang menganggap aksi tersebut tidak pantas terjadi di lingkungan sekolah.

Namun, setelah video tersebut menjadi viral dan menimbulkan kesalahpahaman publik, fakta sebenarnya terungkap bahwa kejadian itu hanyalah sebuah lelucon atau prank. Para siswa tersebut sejatinya sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk guru wali kelas mereka.

Salah satu siswi yang terlibat dalam pembuatan video tersebut, Cindy Aulia, angkat bicara untuk memberikan klarifikasi resmi. Ia mengakui bahwa video tersebut dibuat bersama dengan tiga teman sekelasnya.

Klarifikasi ini disampaikan Cindy melalui sebuah video yang kemudian tersebar luas dan diterima oleh media. Ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kehebohan yang telah ditimbulkan oleh unggahan mereka di media sosial.

"Saya Cindy Aulia, bersama tiga teman saya, meminta maaf sebesar-besarnya atas kegaduhan yang viral di media sosial. Sebenarnya kejadian tersebut tidak benar terjadi, itu hanya prank," kata Cindy dalam video klarifikasi yang diterima kumparan pada Sabtu (25/4).

Cindy menjelaskan bahwa adegan yang terlihat dramatis, seolah-olah terjadi pertengkaran fisik antara dirinya dan guru, hanyalah bagian dari drama yang telah mereka rekayasa. Ia menegaskan bahwa tidak ada guru yang terlibat dalam perkelahian sesungguhnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa sosok yang tampak seperti guru dalam video tersebut sebenarnya adalah salah satu temannya yang mengenakan pakaian praktik. "Saya tidak bertengkar dengan guru, melainkan hanya drama dengan teman saya yang memakai baju praktik sehingga terlihat seperti guru," ujarnya.

Para siswa yang terlibat dalam pembuatan konten tersebut juga menyampaikan permohonan agar masyarakat tidak lagi menyebarluaskan video tersebut. Mereka khawatir kesalahpahaman akan terus berlanjut jika video itu terus beredar.