JABARONLINE.COM - Perkembangan situasi internasional memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan keras pada Sabtu (2 Mei 2026) di Florida. Trump secara eksplisit melabeli pihak-pihak di dalam negeri yang menyatakan Amerika Serikat mengalami kekalahan dalam konflik dengan Iran sebagai pengkhianat.
Reaksi tajam ini dipicu oleh klaim kemenangan yang disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Iran yang baru menjabat, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ketegangan diplomatik dan militer antara kedua negara tersebut tampaknya terus berlanjut dalam ranah narasi publik.
Kekesalan Trump muncul sebagai respons langsung terhadap narasi yang berkembang mengenai potensi kegagalan atau kerugian militer AS di kawasan Teluk Persia. Ia menegaskan bahwa keraguan terhadap kekuatan militer Amerika Serikat saat ini merupakan tindakan yang sangat tidak pantas dilakukan terhadap negara.
Dilansir dari Detikcom, Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap kritik domestik tersebut. "Sebenarnya, saya percaya itu adalah pengkhianatan, oke. Anda ingin tahu yang sebenarnya - itu adalah pengkhianatan," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Politisi dari Partai Republik tersebut juga memberikan sedikit petunjuk mengenai status operasi militer yang dilakukan AS di wilayah Iran. Trump memilih untuk bersikap hati-hati dan menahan diri untuk tidak mendeklarasikan hasil akhir dari peperangan tersebut di hadapan para pendukungnya.
"Kita juga hampir sama baiknya di Iran. Tapi saya tidak suka membicarakannya sampai pekerjaan selesai," kata Trump, Presiden Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa situasi masih dinamis dan belum mencapai titik akhir yang diinginkan.
Di sisi lain, Teheran menyiarkan pesan kemenangan melalui televisi pemerintah Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa upaya militer besar-besaran yang dilakukan AS selama dua bulan terakhir telah berakhir dengan kegagalan total.
"Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para pengganggu dunia di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika Serikat dalam rencananya, babak baru sedang berlangsung untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz," kata Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.
Khamenei, yang menggantikan posisi mendiang ayahnya, juga menyoroti ketidakmampuan militer Amerika Serikat untuk melindungi aset-asetnya di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa pangkalan militer AS kini tidak lagi menjadi ancaman signifikan bagi stabilitas regional.
