JABARONLINE.COM - Sebuah video yang menampilkan rombongan siswa sekolah dasar asal Salatiga tengah melakukan perjalanan menuju Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia menjadi perbincangan hangat di media sosial. Aksi mencarter pesawat ini menarik perhatian publik karena melibatkan rombongan anak-anak dalam jumlah besar untuk kegiatan sekolah.
Kegiatan field trip dengan moda transportasi udara ini ternyata bukan hal baru, melainkan sudah menjadi agenda rutin tahunan bagi SD Muhammadiyah Plus Salatiga selama 15 tahun terakhir. Informasi mengenai rutinitas sekolah tersebut dilansir dari Detik Travel.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat suasana ceria di dalam kabin pesawat yang dipenuhi oleh murid-murid. Mereka tampak kompak mengenakan seragam sekolah bersama para guru pendamping sembari melambaikan tangan ke arah kamera.
Kepala SD Muhammadiyah Plus Salatiga, Dwi Wuryandari, memberikan konfirmasi bahwa rombongan yang viral tersebut memang merupakan siswanya. Perjalanan edukasi menuju ibu kota tersebut dilaksanakan pada pertengahan April lalu.
"Rombongan kami telah bertolak menuju Jakarta pada tanggal 14 April lalu," kata Ndari, sapaan akrab sang kepala sekolah, saat memberikan keterangan pada Jumat (17/4).
Program khusus ini menyasar siswa kelas 5 dan telah konsisten dilaksanakan sejak tahun 2011. Pada tahun ini, total peserta yang ikut serta mencapai 183 orang, yang terdiri dari 168 murid serta sejumlah guru pendamping.
"Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan sejak 2011 untuk kelas lima, di mana tahun ini diikuti oleh 183 peserta yang terdiri dari 168 siswa dari enam rombel dan selebihnya adalah guru," ujar Ndari.
Ide penggunaan pesawat terbang bermula dari keinginan sekolah untuk mempraktikkan materi pelajaran kelas 5 mengenai jenis-jenis alat transportasi secara nyata. Pihak sekolah ingin siswa mendapatkan pengalaman langsung yang tidak didapatkan di dalam kelas.
"Kami ingin anak-anak merasakan pengalaman langsung prosedur bandara mulai dari pemeriksaan barang hingga pengecekan tiket agar pemahaman mereka tidak sebatas teori di buku atau video saja," kata Ndari.
