JABARONLINE.COM - Pergerakan harga kebutuhan pokok masyarakat di Jawa Timur pada Sabtu, 2 Mei 2026, memperlihatkan sinyal positif bagi daya beli konsumen. Sejumlah komoditas pangan esensial tercatat mengalami koreksi harga yang signifikan dibandingkan hari sebelumnya.

Pemantauan rutin terhadap perkembangan harga ini dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur. Tujuan utama dari pemantauan ini adalah memberikan panduan kepada masyarakat dalam merencanakan anggaran belanja rumah tangga mereka.

Sembilan Bahan Pokok (Sembako) merupakan tulang punggung pemenuhan gizi harian masyarakat, mencakup komoditas vital mulai dari beras, gula, minyak goreng, daging, telur, hingga berbagai jenis bumbu dapur.

Data terkini yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa penurunan harga terjadi pada sektor daging dan telur, yang merupakan sumber protein utama bagi banyak keluarga di wilayah tersebut. Penurunan ini diharapkan dapat meringankan beban pengeluaran rumah tangga.

Daging sapi bagian paha belakang mengalami penurunan harga rata-rata sebesar Rp 1.022, atau setara dengan koreksi 0,82 persen dari harga sebelumnya. Hal serupa juga terjadi pada sektor unggas, di mana daging ayam kampung dan daging ayam ras ikut terkoreksi masing-masing sebesar Rp 1.612 dan Rp 265.

Sektor bumbu dapur juga menunjukkan perbaikan harga yang cukup berarti, terutama pada komoditas bawang merah yang turun Rp 752 atau sekitar 2,09 persen. Selain itu, harga cabai merah besar dan cabai rawit juga ikut merosot, dengan penurunan masing-masing sebesar Rp 626 dan Rp 343.

Fenomena penurunan harga yang paling mencolok terlihat pada telur ayam kampung, yang tercatat menyusut hingga Rp 1.541, merepresentasikan koreksi harga sebesar 3,32 persen. Namun, tidak semua komoditas mengikuti tren penurunan ini, karena bawang putih tercatat mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 241 atau 0,81 persen.

Dinamika pergerakan harga di pasar sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan konsumen dan ketersediaan pasokan barang di lapangan. "Jika stok barang melimpah melampaui kebutuhan konsumen, harga cenderung akan bergerak turun," demikian prinsip dasar yang berlaku di pasar.

Faktor eksternal seperti kondisi alam juga memainkan peran krusial dalam menentukan stabilitas harga pangan. "Kondisi alam seperti cuaca ekstrem dan bencana juga memegang peranan penting karena dapat mengganggu siklus produksi pertanian," jelas sumber mengenai potensi lonjakan harga akibat gangguan pasokan.