JABARONLINE.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mengakhiri periode koreksi panjangnya dan berhasil membukukan kenaikan pada penutupan perdagangan hari Rabu, 29 April 2026. Kenaikan ini menandai berakhirnya tren negatif yang telah berlangsung selama tujuh hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Menurut data yang tercatat pada IDX Mobile, indeks komposit berhasil mencatatkan apresiasi sebesar 0,41 persen, atau setara dengan penambahan 28,84 poin, sehingga berakhir di posisi 7.101,23. Pergerakan positif ini menunjukkan adanya pemulihan minat beli di pasar modal domestik.

Pada hari tersebut, mayoritas saham tercatat dalam zona hijau, dengan total 399 saham yang menguat, berbanding 297 saham yang melemah, dan 263 saham lainnya bertahan stabil. Kinerja positif ini turut dipengaruhi oleh penguatan signifikan dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).

Beberapa saham unggulan yang mendorong kinerja indeks antara lain BREN yang menguat 1,72 persen mencapai Rp4.730, serta AMMN yang naik 1,46 persen ke level Rp5.200 per lembar saham. Selain itu, TLKM dan ASII juga memberikan kontribusi positif pada penguatan IHSG.

Saham TLKM tercatat naik 1,77 persen menjadi Rp2.870, sementara ASII menguat 0,41 persen di harga Rp6.050, memperkuat optimisme investor. Kontributor positif lainnya termasuk PANI dengan kenaikan 1,17 persen ke Rp8.650, dan saham seperti CUAN yang tumbuh 1,17 persen ke Rp1.300.

Meskipun terjadi rebound, tim riset dari Phintraco Sekuritas memberikan catatan penting mengenai kondisi teknikal IHSG yang masih berada di bawah tekanan. Mereka mengamati adanya sinyal death cross antara MA5 dan MA20, yang diperkuat oleh pelebaran negatif pada histogram MACD.

Namun, terdapat indikasi pembalikan arah jangka pendek karena indikator stochastic RSI telah memasuki area jenuh jual (oversold). Kondisi oversold ini diyakini membuka peluang terjadinya technical rebound dalam waktu dekat, seperti yang terpantau pada perdagangan Rabu.

Sentimen pasar pada hari itu juga dipengaruhi oleh pemulihan setelah koreksi 0,48 persen pada Selasa, 28 April 2026, yang sempat dipicu oleh ketidakpastian terkait konflik di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut diketahui berdampak pada fluktuasi harga energi global.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, pemerintah telah meluncurkan kebijakan stimulus berupa pembebasan bea masuk atau penetapan tarif 0 persen untuk impor LPG dan produk plastik selama enam bulan. Hal ini dilakukan untuk meredam dampak inflasi energi.