JABARONLINE.COM - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan hari Rabu (22/4/2026). Indeks komposit domestik ini mengalami penurunan sebesar 0,24 persen dan parkir di level 7.541.
Berdasarkan data IDX Mobile yang dilansir dari Market, pelemahan indeks setara dengan 17,77 poin. Meskipun indeks melemah, mayoritas saham sebenarnya menunjukkan tren positif dengan rincian 459 saham menguat, 251 saham melemah, dan 249 saham stagnan.
Koreksi pada IHSG kali ini utamanya dibebani oleh penurunan harga sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar raksasa. Beberapa di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun 0,77 persen dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang anjlok hingga 9,62 persen.
Selain itu, tekanan juga datang dari PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang melemah 1,98 persen, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang terkoreksi 0,92 persen. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga mengalami tekanan cukup dalam sebesar 9,71 persen.
"Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan BI rate pada level 4,75 persen, diikuti dengan deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility pada level 5,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur April 2026," tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas.
"Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh langkah MSCI yang tetap membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026, namun kekhawatiran mereda karena ancaman penurunan status menjadi pasar perbatasan tidak lagi disebutkan," tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas.
"Pihak MSCI masih akan terus melakukan evaluasi terhadap konsistensi serta efektivitas kebijakan baru, terutama mengenai transparansi data kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas free float minimal 15 persen," tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas.
"Para pelaku pasar saat ini telah mengantisipasi risiko penghapusan saham BREN dan DSSA dari indeks MSCI Global Standard akibat masuk dalam kategori High Shareholding Concentration atau konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi," kata Tim Riset Phintraco Sekuritas.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan sikap waspada investor yang masih menantikan perkembangan lebih lanjut. Fokus pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman resmi berikutnya dari MSCI yang dijadwalkan akan dirilis pada bulan Juni 2026 mendatang.
