JABARONLINE.COM - Kecelakaan fatal yang melibatkan dua rangkaian kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Selasa, 28 April 2026, telah memasuki fase penanganan pasca-kejadian. PT Kereta Api Indonesia (Persero) secara resmi menyatakan komitmen penuh mereka untuk menanggung seluruh biaya terkait dampak insiden tersebut.
Keputusan ini diambil setelah tim gabungan penyelamat resmi menghentikan operasi pencarian dan evakuasi korban pada pagi hari. Fokus penanganan kemudian beralih total kepada pemulihan dan dukungan bagi para korban yang selamat maupun keluarga yang ditinggalkan.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengonfirmasi bahwa seluruh proses evakuasi telah selesai dilaksanakan. Hal ini berarti tidak ada lagi penumpang yang teridentifikasi terjebak di dalam gerbong kereta yang mengalami kerusakan parah akibat benturan keras tersebut.
Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Kepala Basarnas, memberikan keterangan resmi mengenai selesainya operasi penyelamatan yang telah berlangsung intensif. Beliau menegaskan bahwa seluruh tim SAR telah kembali ke pangkalan masing-masing pada pukul 08.00 WIB.
"Pukul 08.00 WIB operasi evakuasi sudah selesai. Seluruh Tim SAR kita sudah kembalikan ke homebase masing-masing," ujar Mohammad Syafii, menggarisbawahi berakhirnya fase darurat pencarian korban di lokasi.
Lebih lanjut, Kepala Basarnas memastikan bahwa area terdampak, khususnya yang menjadi fokus awal evakuasi yaitu gerbong khusus perempuan, telah disisir secara menyeluruh. Tidak ditemukan lagi korban dalam proses penyisiran akhir tersebut.
"Saya pastikan sudah tidak ada korban yang kita temukan.," tegas Mohammad Syafii, menutup rangkaian operasi pencarian di lokasi kecelakaan historis tersebut.
Total korban terdampak dari tabrakan yang terjadi di Bekasi Timur tersebut berjumlah 98 orang, terdiri dari korban meninggal dunia dan mereka yang mengalami luka-luka. Data ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin.
Korban luka-luka saat ini dilaporkan tersebar dan sedang menjalani perawatan intensif di delapan fasilitas kesehatan berbeda. Beberapa rumah sakit yang terlibat antara lain RSUD Bekasi, RS Primaya, serta RS Siloam Bekasi Timur.
