JABARONLINE.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah secara aktif memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah signifikan hingga menembus level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026).

Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang sedang mengalami ketidakpastian, sebuah situasi yang turut menekan mata uang lain di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah menggarisbawahi bahwa fluktuasi ini merupakan bagian dari dinamika pasar internasional yang lebih luas.

Dilansir dari Detik Finance, data Bloomberg menunjukkan bahwa dolar AS sempat menguat tajam ke level Rp17.310 pada pukul 09.35 WIB sebelum sedikit mengalami koreksi ke Rp17.297 pada pukul 09.55 WIB. Mata uang Paman Sam tersebut kembali menguat 0,70 persen ke posisi Rp17.302 pada pukul 10.15 WIB.

Angka pelemahan ini jauh melampaui asumsi nilai tukar yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun berjalan, yakni sebesar Rp16.500 per dolar AS. Pemerintah menekankan bahwa fenomena depresiasi ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi bersifat regional.

Penegasan mengenai pemantauan situasi ini disampaikan langsung oleh Airlangga Hartarto saat ia melakukan peninjauan terhadap perkembangan ekonomi terkini di wilayah Jakarta Selatan pada hari tersebut.

"Ya kita monitor aja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Airlangga menjelaskan bahwa tekanan yang dihadapi rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh dinamika pasar internasional, bukan semata-mata disebabkan oleh faktor domestik. Ia juga memberikan pandangan agar masyarakat melihat situasi ini sebagai volatilitas yang berasal dari luar negeri.

"Ya kan itu lihat gejolak, gejolak global juga. Jadi ya kita monitor saja," jelas Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut memastikan bahwa faktor-faktor fundamental ekonomi di dalam negeri bukanlah penyebab utama dari penurunan nilai tukar rupiah kali ini. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk tidak bersikap reaktif secara berlebihan terhadap fluktuasi harian yang terjadi di pasar valuta asing.