JABARONLINE.COM - PT Sinar Terang Mandiri Tbk. (MINE) memproyeksikan tahun 2026 sebagai momentum penting untuk pemulihan laba bersih perusahaan. Emiten yang bergerak di bidang jasa penunjang pertambangan ini mengandalkan kontribusi dari sejumlah proyek baru yang kini sedang dalam tahap pengembangan intensif.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Market, manajemen menyatakan optimisme terhadap prospek kinerja yang stabil berkat permintaan konsisten dari para klien. Perusahaan memanfaatkan kontrak jangka menengah dan panjang dengan durasi 3 hingga 5 tahun sebagai strategi pengaman operasional di tengah dinamika industri.
Direktur MINE, Ade Irawan, menjelaskan bahwa kapasitas produksi dari para klien saat ini masih berada pada level yang stabil jika dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya. Ia menilai fluktuasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di sektor tambang tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan.
"Kapasitas produksi klien masih mengacu pada capaian 2025, dan kebutuhan jasa setiap tahun relatif tetap," ujar Ade Irawan.
Guna menjaga stabilitas margin, perseroan telah menerapkan mekanisme penyesuaian tarif dalam kontrak kerja mereka. Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi risiko terhadap potensi lonjakan biaya operasional, terutama pada komponen bahan bakar minyak (BBM) dan upah tenaga kerja.
Chief Financial Officer (CFO) MINE, Holmes Siringoringo, mengungkapkan bahwa alokasi belanja modal atau capex untuk tahun 2026 akan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Pendanaan untuk kebutuhan investasi tersebut diprioritaskan berasal dari arus kas internal perusahaan.
"Masih ada beberapa proyek dalam pipeline. Jika sudah final, akan kami sampaikan ke publik," kata Holmes Siringoringo.
Secara finansial, MINE membukukan pendapatan sebesar Rp2,36 triliun pada tahun 2025, atau tumbuh 11 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, laba bersih perusahaan sempat terkoreksi sebesar 34 persen menjadi Rp202,02 miliar karena adanya beban investasi pada fase ekspansi.
"Kontribusi pendapatan dari proyek tersebut belum optimal, sementara biaya investasi sudah terealisasi. Ini menciptakan timing gap antara pendapatan dan biaya," jelas Holmes Siringoringo.
