JABARONLINE.COM - Gunung Semeru yang berlokasi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Kamis pagi, 23 April 2026. Fenomena alam ini ditandai dengan dua kali letusan yang memuntahkan material abu vulkanik ke atmosfer.
Aktivitas erupsi ini terpantau terjadi dalam rentang waktu dua setengah jam, yaitu antara pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.30 WIB pagi hari. Kolom abu yang dihasilkan dari letusan tersebut dilaporkan membumbung tinggi mencapai kurang lebih 1.000 meter di atas puncak gunung.
Menurut catatan Pos Pengamatan Gunung Semeru, arah sebaran abu vulkanik dari erupsi kali ini cenderung mengarah ke bagian barat. Intensitas sebaran abu yang teramati sangat tebal, menandakan energi yang dikeluarkan saat letusan berlangsung.
Data seismograf menunjukkan bahwa salah satu letusan tercatat memiliki durasi yang cukup panjang, yakni selama 118 detik. Selain itu, getaran yang ditimbulkan oleh gempa letusan tersebut menghasilkan amplitudo maksimum sebesar 22 mm.
Situasi terkini menunjukkan bahwa status Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level III atau Siaga oleh otoritas terkait. Status ini mengindikasikan bahwa potensi bahaya masih ada dan memerlukan pengawasan ketat dari petugas di lapangan.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, memberikan konfirmasi resmi mengenai perkembangan situasi yang terjadi di kawasan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pengamatan dilakukan secara intensif untuk memantau pergerakan material vulkanik dari puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa ini.
"Gunung Semeru mengalami erupsi dengan dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak," ujar Yadi Yuliandi, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru.
Dilansir dari Detikcom, kolom abu yang mencapai ketinggian tersebut membuat ketinggian total abu vulkanik mencapai sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut. Angka ini menggambarkan seberapa jauh material vulkanik terlempar ke udara.
Pihak berwenang segera mengeluarkan instruksi keselamatan yang tegas guna meminimalisir risiko terhadap masyarakat yang bermukim di sekitar lereng gunung. Zona bahaya yang telah dipetakan menjadi area yang harus dihindari oleh warga.
